blank
Dubes Spanyol saat mencoba peralatan mengukir.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Bupati Jepara Witiarso Utomo, beserta Wakil Bupati mendampingi Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Francisco de Asis Aguilera Aranda, dalam kunjungannya ke sentra kerajinan mebel dan ukir di Desa Senenan, Jepara. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan seni ukir Jepara yang terkenal hingga mancanegara.

blank
Dubes Spanyol beserta Bupati dan Wakil Bupati Jepara.

Saat tiba di perusahaan Jepara Carver, sentra relief Senenan, Duta Besar Spanyol tersebut menyatakan keinginannya untuk belajar mengukir langsung dari para pengrajin. Dengan antusias, ia mencoba mengukir untuk pertama kalinya, sebuah pengalaman yang ia sebut “menarik dan mengasyikkan”.

Proses belajar mengukir tersebut dipandu oleh Ketua Komunitas Ukir Jepara, Sutrisno, dan Sekretaris Komunitas Ukir, Suhartono. Awalnya, Francisco merasa khawatir akan merusak kayu yang diukir, namun setelah diberi penjelasan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, ia pun mulai memegang tatah (pahat) dan mencoba teknik dasar “mbukai” untuk memperbaiki ukiran lama dengan tatah Penilat, sambil memegang ganden (palu ukir).

Selama kunjungan, Duta Besar Spanyol juga berkesempatan melihat berbagai karya spektakuler anggota komunitas, seperti relief “Perang Bharatayuddha” karya Suhartono, “Pedang Raksasa Sabdo Palon” karya Prapto, serta diorama karya Mugiyono. Karya-karya tersebut memukau dengan detail dan kehalusan pahatannya.

Ketika melihat karya Sutrisno berjudul “Burung di Hutan”, Francisco tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Wow, amazing! Detailnya luar biasa indah,” ujarnya. Karya tersebut menjadi bukti keahlian para pengukir Jepara yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Namun, di balik kekaguman tersebut, terselip keprihatinan. Sutrisno selaku ketua Komunitas Ukir Jepara menyadari bahwa generasi muda Jepara saat ini kurang tertarik untuk melanjutkan tradisi mengukir. “Duta Besar yang jauh dari Spanyol saja mau belajar mengukir, masak kaum muda Jepara tidak?” ujar Sutrisno.

Harapannya, kunjungan ini dapat memicu semangat generasi muda untuk melestarikan seni ukir Jepara. “Jika tidak dilestarikan, suatu saat nanti hanya tinggal cerita,” tambah Sutrisno, yang khawatir dengan semakin berkurangnya pengukir muda di Senenan.

Kunjungan diplomat Spanyol ini diharapkan dapat membuka peluang ekspor ukiran Jepara ke pasar Eropa. “Ukiran Jepara sangat indah, detail, dan mempesona. Potensinya besar untuk go international,” ujar Francisco.

Dengan dukungan pemerintah dan minat pasar global, seni ukir Jepara diharapkan semakin mendunia. Bupati Witiarso berkomitmen untuk terus mempromosikan kerajinan lokal, sekaligus mendorong regenerasi pengrajin muda agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang.

ua