JEPARA (SUARABARU.ID)- Masyarakat Jepara khususnya yang menyukai seni tradisi Kamis (17/04/2025) pagi dikejutkan dengan kabar meninggalnya Purwanto, 66 tahun, pengendang legendaris yang dimiliki Jepara. Ia meninggal sekitar jam 08.00 Wib setelah beberapa saat dirawat di RSI Sultan Hadirin Jepara karena keluhan penyakit lambung. Juga ada riwayat jantung.
Purwanto yang akrab disapa Pur Pongge adalah seniman yang memiliki komitmen untuk terus mempertahankan seni tradisi. Ia telah menggarap berbagai pentas untuk mewakili Jepara, mulai ditingkat provinsi hingga tingkat nasional.
“Beliau seniman yang memiliki dedikasi dan komitmen,” ujar Ki Dalang Hadi Purwanto yang siang tadi turut melayat kerumah duka di Bondo. Almarhum juga telah menerima penghargaan seniman berdedikasi dari Bupati Jepara untuk kategori pengembang seni tradisi, tambahnya.
Purwanto mulai tertarik untuk menekuni Gamelan Jawa ketika masih berumur 9 tahun, atau sekitar tahun 1967-an. Sebab di samping suka wayang, kakeknya memiliki seperangkat gamelan Jawa sehingga mudah bagi Purwanto belajar Gamelan.
Purwanto ikut aktif dalam pementasan ketika berusia 17 tahun. Saat itu ia memainkan instrumen bonang penerus dalam pementasan wayang kulit. Namun ia terus belajar hingga mahir pula memainkan beberapa instrumen gamelan seperti saron, demung, gender, gambang, siter, slentem dan gendang.
Kesenian yang digeluti Purwanto hingga saat ini yaitu, pewayangan yang berperan sebagai pengendang dan penggender, pengajar karawitan anak di salah satu sekolah dasar, kelompok campursari, komposer iringan untuk tari-tarian, dan aktif dalam salah satu kelompok ketoprak di Jepara.
Selain aktif sebagai pelaku kesenian, Purwanto juga berperan di balik panggung yaitu sebagai pengatur keuangan dalam kelompok campursari miliknya bernama Gondo Arum, maupun dangdut yang bernama Birawa. Di samping itu ia juga berperan sebagai “penghubung panjer” di dalam beberapa kelompok wayang kulit yang diikutinya.
Dari pernikahan dengan Karmini yang telah terlebih dahulu wafat 8 tahun lalu, Purwanto memiliki 2 orang anak yaitu Rhona Halidian yang saat ini mengajar di SMAN 1 Mlonggo, serta Etiek Eka Ningtyas yang telah meninggal dunia. Rhona Halidian juga menapaki jejak ayahnya, mengabdi pada seni tradisi di tengah kesibukannya sebagai seorang guru.
Kepada SUARABARU.ID Rhona Halidian menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang telah memberikan dukungan doa. “Juga memohonkan maaf Bapak jika selama hidupnya memiliki kesalahan,” tuturnya.
Hadepe













