blank
Iniserator bantuan PT Djarum mulai diujicobakan di TPST Jati Kulon. foto: Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Upaya penanganan sampah di Kabupaten Kudus, khususnya di Desa Jati Kulon, kian menunjukkan hasil nyata. Kolaborasi antara pemerintah daerah, DPRD, dan sektor swasta membuahkan langkah konkret berupa pemanfaatan teknologi pengolahan sampah modern, yang diharapkan menjadi model pengelolaan berbasis desa di masa depan.

Salah satu tonggak pentingnya adalah pengujian emisi terhadap alat insinerator yang merupakan hibah dari PT Djarum. Alat ini telah resmi diserahkan dan dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada awal bulan depan.

Ketua Komisi C DPRD Kudus, Zaenal Arifin, menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diberikan PT Djarum. Ia menyebut bantuan ini sangat strategis dalam mengatasi permasalahan sampah yang selama ini membebani wilayah tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi bantuan ini. Alat insinerator dari PT Djarum telah kami terima dan pengujiannya sudah dilakukan oleh tim terkait. Rencananya akan mulai difungsikan pada awal tahun depan,” ujarnya, Kamis (10/4/2025).

Zaenal menambahkan bahwa alat tersebut telah menjalani uji emisi untuk memastikan bahwa proses pembakarannya tidak menimbulkan pencemaran udara. Dengan kapasitas 350 kilogram per 20 menit, insinerator ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah secara signifikan.

Tak hanya insinerator, PT Djarum juga memberikan dukungan berupa alat pencacah dan pemilah sampah, tong sampah rumah tangga, hingga bentor pengangkut, guna menunjang operasional pengelolaan secara menyeluruh.

“Kami dorong agar BUMDes bisa mengelola ini dengan optimal. Harapannya, Jati Kulon bisa menjadi percontohan desa mandiri dalam menangani sampah,” lanjut Zaenal.

Senada dengan Zaenal, Sekretaris Komisi C DPRD Kudus, Rochim Sutopo, menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini adalah kunci untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan dalam menangani sampah.

“Program ini merupakan wujud aspirasi masyarakat yang kami kawal. PT Djarum telah memberikan alat bantu yang sangat dibutuhkan, dan hari ini tim dari Bogor juga ikut menguji emisi untuk memastikan semua berjalan sesuai standar lingkungan,” jelas Rochim.

Ia pun berharap, langkah progresif Desa Jati Kulon dapat menginspirasi desa-desa lain di Kudus agar mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala Desa Jati Kulon, Hery Supriyanto, menegaskan kesiapan pihaknya dalam mengelola sampah secara mandiri. Ia mengungkapkan bahwa wilayahnya menghasilkan sekitar 6 ton sampah setiap harinya—angka yang cukup besar untuk skala desa.

“Insya Allah, kami targetkan pengolahan 6 ton sampah ini bisa selesai dalam waktu kerja harian. Kami fokus dulu pada sampah internal desa, sambil terus bersiap mengelola sampah dari desa tetangga sesuai arahan PKPLH,” katanya.

Hery menjelaskan bahwa uji emisi telah rampung, dan kini pihaknya tengah menyempurnakan infrastruktur pendukung agar operasional bisa berjalan dengan lancar dan nyaman bagi para petugas.

“Lahan dan bangunan sudah kami siapkan. Bantuan alat sepenuhnya dari PT Djarum. Jika semuanya lancar, bulan depan kami mulai operasional penuh,” tutupnya optimis.

Dengan sinergi antara pemangku kepentingan dan dukungan teknologi tepat guna, Desa Jati Kulon kini bersiap menorehkan prestasi sebagai pionir dalam pengelolaan sampah berbasis desa yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.

Ali Bustomi