blank
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih saat menyampaikan rilis Luas Panen dan Produksi Padi Jawa Tengah 2024. Foto: Dok/BPS

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Walau terjadi penurunan produksi di tahun 2024, Jawa Tengah masih menempati terbesar kedua sebagai Provinsi produksi beras secara nasional setelah Jawa Timur. Jawa Barat sebagai pesaing lumbung padi Jawa Tengah juga mengalami penurunan jumlah dan persentase yang lebih besar.

Produksi beras hasil konversi produksi padi Jawa Tengah sepanjang tahun 2024 sebesar 5,11 juta ton. Jumlah sebanyak ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya tercatat mengalami penurunan sebanyak 110,88 ribu ton atau 2,12 persen. Dimana pada tahun 2023 produksi beras Jawa Tengah sebanyak 5,22 juta ton.

Hal itu disampaikan Kepala BPS Provinsi Jateng, Endang Tri Wahyuningsih saat menyampaikan rilis angka tetap produksi padi Jawa Tengah tahun 2024, Senin (3/3/2025).

Produksi beras ini dihitung berdasarkan konversi jumlah produksi padi kering giling (GKG) hasil pengamatan melalui survei ubinan dan kerangka sampling area (KSA) yang dilakukan BPS di seluruh wilayah Jawa Tengah sepanjang tahun.

“Dari hasil pengamatan melalui metode KSA, BPS mencatat bahwa realisasi luas panen padi Januari hingga Desember 2024 di Jawa Tengah mencapai 1,55 juta hektare, atau mengalami penurunan sebesar 87,98 ribu hektare. Turun 5,36 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1,64 juta hektare. Inilah diantara yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi beras di tahun 2024,” katanya.

Disampaikan bahwa produksi beras di bulan Januari 2025 diperkirakan sebanyak 111,40 ribu ton. Sementara potensi produksi sepanjang Februari hingga April 2025 sebanyak 2,24 juta ton. Alhasil sepanjang empat bulan pertama di tahun 2025 ini, potensi produksi beras akan meningkat 9,28 persen dibanding periode yang sama di tahun 2024.

Diketahui bahwa sejak 2018, BPS melakukan penghitungan luas panen padi menggunakan metode KSA. Dimana luas panen padi dihitung berdasarkan objective measurement menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT dan BPS telah mendapat pengakuan dari LIPI (BRIN sekarang).

Metode ini jelas lebih akurat dibanding dengan metode sebelumnya yang menggunakan metode eye estimate.

Ning S