JEPARA (SUARABARU.ID)- Kisah inspiratif ini datang dari warga RT 04 RW 04 Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, bernama Budi Wahono. Siapa sangka pria yang awalnya hanyalah seorang kuli balok di wilayah Karangbagusan, kini sukses mengembangkan tanaman anggur import.

Kisah ini berawal di tahun 2016, saat itu Budi coba-coba untuk menanam anggur di halaman rumahnya dengan membeli bibit anggur dengan harga 100 ribu per bibit.
“Saat itu saya tanam di depan rumah, selang satu tahun pohon anggur saya tumbuh subur. Tapi buahnya rasanya kecut dan buahnya kecil seperti bumbu merica”, ujar Budi mengawali kisahnya saat suarabaru.id mengunjungi kebun anggurnya di Desa Sowan Kidul.

“Saat itu banyak orang mencibir dan memandang remeh. Bahkan dari tetangga, sampai orang tua sendiri turut mencela kalau tanaman anggur tidak bisa tumbuh di desa Sowan Kidul”, lanjut Budi kepada suarabaru.id, Senin (11/11/2024).
“Bahkan ada yang berani bertaruh STNK motor, sampai potong telinga kalau anggur saya hidup dan berbuah”, imbuhnya.
Dengan cibiran dari para tetangga dan temannya Budi ingin membuktikan kalau anggur dengan kualitas baik, bisa hidup dan berbuah di desa Sowan Kidul. Namun, seiring berjalannya waktu harapan untuk menghasilkan buah anggur dengan kualitas baik tidak kunjung tiba.

“Setahun sempat terpuruk meninggalkan anggur yang saya tanam. Saya tinggal kerja merantau ke Bali, dan ternyata selama saya kerja di Bali anggur saya dirawat oleh istri ia sambung dengan yang manis”, kenang Budi.
Dari situlah Budi kembali termotivasi untuk lebih tekun lagi mempelajari menanam anggur. Bahkan Istrinya selalu memberi dorongan dan semangat agar kembali menanam anggur. Ia memulai lagi dengan membeli 15 bibit anggur import dengan harga 150 ribu/bibit. Untuk ditanam di pekarangan rumah dari jumlah itu hanya ada 9 varietas yang jadi unggulan.
“Alhamdulillah indukan bibit yang saya tanam berbuah lebat, orang-orang yang dulunya mencibir, saya undang untuk memanen dan mencicipi buah anggurnya. Hasil panen saya antar juga ke rumah tetangga”, terang Budi kepada suarabaru.id sambil mempersilahkan mencicipi berbagai jenis anggur di kebunnya.
Dari hasil yang sudah lumayan bagus, Budi kemudian iseng untuk mulai membibitkan dengan membeli rostok 2 kg dengan harga 100 ribu/kg dan mulai memasarkan via online. Dari pembibitan anggur inilah perkebunan anggur milik Budi mulai dikenal.
Kebun anggur bernama “Wah Ono Anggur” ini mulai ramai didatangi para pengunjung. Budi berhasil mengirim bibit anggur ke seluruh Indonesia, bahkan sampai Malaysia. Untuk bibit dengan usia 3-7 bulan dijual dengan harga 75 ribu-400 ribu. Sedangkan di tambulan pot bisa sampai 2 juta. Omset perbulan bisa sampa 5 juta-15 juta.
“Bagi yang ingin belajar, saya juga siap membantu bimbingan perawatan gratis untuk pemula yang ingin benar-benar belajar mengenai budidaya anggur tanpa memungut biaya”, pungkas Budi.
ua













