DALAM PAGELARAN Wayang Kulit, setidak-tidaknya ada 4 jenis adegan perang. Buku Ensiklopedi Wayang Indonesia (terbitan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) Jakarta 1999), menuliskan, keempat perang itu terdiri atas Perang Gagal, Perang Kembang, Perang Ampyak dan Perang Sampak (Perang Brubuh).
Perang Gagal, dijadikan menu utama dalam lomba dalang remaja (usia 14 tahun ke atas) di Kabupaten Wonogiri Tahun 2024. Artinya, semua peserta harus menyajikan adegan Perang Gagal, disamping adegan Paseban Njawi. Perang Gagal, merupakan sajian perkelahian dalam bagian Pathet Nem, antara prajurit dan senapati dari dua nagari.
Lomba dalang remaja digelar di Museum Wayang Indonesia (MWI), yakni di Joglo Padepokan Pak Bei Tani, Kecamatan Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Jateng. MWI diresmikan oleh Presiden RI Megawati Tahun 2004. Menjadi salah satu destinasi wisata, MWI didirikan Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KPAA) Ki Sura Agul-agul Begug Poernomosidi (Bupati Wonogiri dua periode dari Tahun 2000-2010).
Perang Gagal, menyajikan perangnya tokoh baik melawan tokoh jahat. Yakni perangnya para prajurit melawan prajurit atau satriya dengan raksasa. Juga perangnya prajurit melawan binatang. Ini terjadi, setelah sebelumnya ada perselisihan pendapat yang dibicarakan dalam persidangan di istana.Sejauh mana kemahiran olah sabet dan kreasi sang dalang yang tampil menyajikan Perang Gagal di pentas pakeliran, akan menampakkan kadar kemampuannya masing-masing. Terlebih, ketika dalam adegan Perang Gagal, ditampilkan selingan gecul (jenaka) untuk membangun lelucon dalam peperangan. Yang ini, mampu mengundang tepuk riuh dan sorak sorai penonton,
Dalam Perang Gagal, tidak ada musuh yang sampai mati. Meski demikian, sajian perangnya tetap dibuat seru dan menarik. Sejumlah raksasa tanpa makhota, tampil maju ke medan laga dengan gerak lincah atraktif akrobatik, menyertakan gerak berjumpalitan koprol dan salto.
Pada sejumlah dalang yang mahir, mampu menyajikan adegan Perang Gagal sebagai tontonan menghibur. Yakni dengan menyelipkan adegan lucu, sekadar meredakan ketegangan sejenak dalam suasana perang. Yakni ditampilkannya ulah paradoksal prajurit, yang salah memukulkan pusaka Gada pada komandannya sendiri.
Menghibur
Atau menampilkan gerak jenaka tokoh wayang Ki Demang Cekruk Truna, saat mengalahkan amukan Harimau dengan senjata tombaknya. Ini menjadi adegan yang menyejukkan dalam Perang Gagal, karena jogetannya tampil dalam gerak patah-patah dan mengundang sorak penonton. Ini menjadi sajian menghibur karena diiringi alunan Tembang Walang Kekek dari para Waranggana (Sindhen)-nya.
Perang Gagal biasanya diawali dengan Budhalan (pemberangkatan) Prajurit ke medan laga. Ini setelah berakhirnya adegan Paseban Njawi. Ki Dalang pun segera mengucap: ”Enjing bidhal gumuruh saking jroning nagari, Oooong……../Wus katingal lampahing pra wadya bala, Sigra cancut gumregut…..”
Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, melalui Kabid Kebudayaan Eko Sunarsono, menyatakan, adegan Paseban Njawi dan Perang Gagal, dipilih menjadi materi menu utama dalam lomba dalang remaja. ”Untuk lakonnya bebas, ditentukan sendiri oleh peserta masing-masing,” jelas Ki Eko Sunarsono SSn, yang juga seniman Dalang Wayang Kulit.
Dalam durasi tampil selama 90 menit, para peserta dituntut mampu menyajikan pakeliran ringkas, yang di dalamnya menyertakan adegan Perang Gagal dan Paseban Njawi. Dari dua adegan ini, Tim Juri memberikan penilaian. Yakni untuk memilih siapa gerangan peserta yang memenangi juara.
Tim juri terdiri atas Ki Muhammad Pamungkas Prasetyo (MPP) Bayu Aji (putra dalang kondang Ki Anom Suroto), Ki Anom Dwijakangko dan Ki Puthtut Wijanarko. Trio juri ini menetapkan Juara 1, 2 dan 3 terdiri atas Nareswara Praba (SMP Negeri 2 Wonogiri), Yuvian Giri Untoro (Sanggar Ismoyo Raras Giriwoyo) dan Egi Cahgo Widi Asmoro (Sanggar Panji Wulung Wonogiri). Masing-masing memperoleh nilai 795, 694 dcan 687).
Untuk Juara Harapan 1, 2 dan 3 diraih oleh Muhammad Arya Afandi (Sanggara Marsudi Laras Pracimantoro), Dhanur Probo Kusumo (Sanggar Seni Loka Probo Ngdirojo) dan Wajyu Setyaji (Sanggar Palupi Laras Giriwoyo. Masing-masing mendapatkan nilai 665, 662 dan 533.(Bambang Pur)













