JAKARTA (SUARABARU.ID) – Enam tahun sejak pertama kali beroperasi di tengah – tengah Kota Jakarta, Moda Raya Terpadu (MRT) atau angkutan kereta cepat bawah tanah terus dikembangkan untuk melayani kebutuhan warga masyarakat.
Tak hanya menambah jalur – jalur (line) yang dilalui oleh kereta cepat tersebut, sejumlah kawasan yang menjadi titik stasiun transit juga turut ditingkatkan pengembangannya.
Hal tersebut terungkap saat kegiatan kunjungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan jurnalis ke kantor MRT Jakarta di daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusa, Kamis 19 Juni 2025.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan yang berjumlah sekitar 50 orang tersebut berkesempatan merasakan langsung layanan di stasiun MRT Jakarta dan menjajal ratangga dari Stasiun MRT Dukuh Atas BNI ke Stasiun MRT Bundaran HI Bank DKI.
Tak hanya itu saja, seluruh rombongan juga melihat langsung kawasan transit-oriented development (TOD) di Dukuh Atas.
Ahmad Pratomo selaku Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta memaparkan, sejumlah capaian dan program serta perkembangan proyek kereta bawah tanah pertama di Indonesia tersebut terus didorong pengembangannya.
“Berdiri pada 2008 silam, PT MRT Jakarta telah membangun dan mengoperasikan fase 1 line utara—selatan sepanjang sekitar 16 kilometer dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI,” katanya.
Terdiri dari 10 kilometer jalur layang dengan tujuh stasiun, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati Indomaret, Cipete Raya Tuku, Haji Nawi, Blok A, Blok M BCA, dan ASEAN.
Selain itu dibangun pula enam kilometer jalur bawah tanah dengan enam stasiun, yaitu Senayan Mastercard, Istora Mandiri, Bendungan Hilir, Setiabudi Astra, Dukuh Atas BNI, dan Bundaran HI Bank DKI.
Saat ini, PT MRT Jakarta sedang membangun fase 2 line utara selatan dari Bundaran HI menuju Kota yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 mendatang untuk segmen Bundaran HI hingga Monas dan 2029 untuk segmen Harmoni hingga Kota.
“Sejak mulai beroperasi pada 24 Maret 2019, kini MRT Jakarta telah mengangkut lebih dari 140 juta pelanggan. Hingga pertengahan 2025 ini, rata-rata sekitar 120 ribu orang per hari menggunakan layanan MRT Jakarta,” katanya.
Dirinya menjelaskan, ketepatan waktu MRT mencapai 99,9 persen, dengan layanan berstandar internasional, interkoneksi dengan moda transportasi massal lainnya.
“Bangunan atau mal merupakan faktor utama yang mendorong masyarakat beralih dari transportasi pribadi ke transportasi publik serta menyediakan beragam pilihan pembayaran yang inklusif berbasis digital,” katanya.
Saat ini, pelanggan dapat melakukan pembelian tiket melalui melalui dompet digital (e-wallet), bank digital, kartu kredit, QRIS, aplikasi MyMRTJ, mesin penjualan tiket MyMRTJ Lite, JakLingko, dan berbagai kartu uang elektronik.
Tidak hanya membangun sarana dan prasarana, MRT Jakarta juga mengembangankan kawasan di sekitar stasiun melalui konsep berbasis transit.
Kemudahan berpindah moda transportasi, ketersediaan fasilitas pendukung, serta kenyamanan dan keamanan merupakan prinsip yang diusung MRT Jakarta.
Dirinya menambahkan, saat ini PT MRT Jakarta adalah pengelola utama kawasan berorientasi transit di line utara selatan MRT Jakarta.
Terdapat enam Kawasan TOD yang sedang dikembangkan, yaitu Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M—Sisingamangaraja, Istora—Senayan, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.
“Ke depannya, kami di PT MRT Jakarta berharap agar pembangunan Jakarta akan mengedepankan konsep transit antar moda dan pengembangan kawasan di sekitarnya menjadi ramah pejalan kaki dan pesepeda,” pungkasnya.
Hery Priyono













