blank

BREBES –   SUARABARU.ID: Kehadiran proyek peternakan sapi perah terpadu di Kabupaten Brebes dinilai menjadi momentum penting bagi penguatan ekonomi pedesaan di Jawa Tengah.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan bahwa proyek besar ini harus mampu melibatkan masyarakat lokal secara langsung, terutama petani dan peternak.

Saleh menghadiri langsung agenda groundbreaking Peternakan Sapi Perah Terpadu di Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, pada Senin, 20 Juli 2026.

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya pola kemitraan yang adil dan berkelanjutan agar manfaat investasi tidak hanya terpusat pada perusahaan, tetapi juga dirasakan masyarakat sekitar.

Ia menyampaikan, “ Saya berharap dengan adanya peternakan dan produksi susu terpadu dengan populasi yang sangat besar ini bisa terbangun kemitraan dengan rakyat khususnya petani dan peternak lokal di brebes dan sekitar nya.”

Menurutnya, sektor pertanian dan peternakan di Brebes memiliki potensi besar untuk mendukung operasional peternakan modern tersebut. Salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah keterlibatan petani jagung dalam penyediaan bahan pakan ternak.

“Petani jagung bisa dibeli jangkung dan tebonnya untuk pakan ternak, sehingga petani bisa mendapatkan pasar yang pasti dan harga yang bagus,” ujar Saleh.

Selain itu, ia juga membuka peluang bagi peternak lokal untuk terlibat dalam pengembangan sapi pedaging melalui skema kerja sama dengan perusahaan pengelola.

“Peternak lokal bisa membeli sapi jantan dari PT GDB untuk perbesaran sapi pedaging.”

Tidak hanya sektor petani dan peternak, Saleh juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung kualitas produksi. Ia menilai kolaborasi dengan akademisi penting untuk meningkatkan kualitas bibit dan pakan ternak.

“Ataupun program kemitraan lainnya seperti perguruan tinggi di Jateng bisa bermitra dalam penyediaan bibit jagung maupun pakan yang berkualitas.”

Sebagai informasi, proyek peternakan sapi perah terpadu yang dikembangkan PT Global Dairi Bersama ini berdiri di atas lahan sekitar 710 hektare. Kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 180 ribu ton susu segar per tahun, atau sekitar 20 persen dari total produksi susu nasional.

Pembangunan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor susu. Saat ini, kebutuhan susu dalam negeri masih didominasi impor yang mencapai sekitar 80 persen, atau berkisar 3,6 hingga 3,8 juta ton per tahun.

Tidak hanya berorientasi pada produksi, proyek ini juga dirancang sebagai pusat ekonomi baru berbasis kemitraan. Perusahaan akan melibatkan sekitar 5.000 petani sebagai pemasok hijauan pakan ternak. Selain itu, program penggemukan sekitar 7.000 ekor sapi jantan per tahun akan dijalankan bersama masyarakat.

Kemitraan juga mencakup 1.000 hingga 2.000 peternak sapi perah yang akan dilibatkan dalam produksi susu rakyat. Skema ini diharapkan memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan kapasitas peternak melalui pendampingan dan akses terhadap bibit unggul.

Di sisi lain, konsep keberlanjutan juga menjadi perhatian dalam proyek ini. Limbah peternakan akan diolah menjadi biogas dan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian di sekitar kawasan.

Groundbreaking proyek ini turut dihadiri Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma, serta sejumlah unsur Forkopimda, akademisi, kelompok tani, dan masyarakat.

Dengan skala investasi dan kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri susu modern terbesar di Indonesia. Saleh berharap, kehadiran peternakan ini tidak hanya meningkatkan produksi susu nasional, tetapi juga benar-benar menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat Brebes dan sekitarnya.