blank
Fasilitator dan Peserta Pembentukan Desa Sehat Iklim Desa Ngetuk. Foto: Dok.

JEPARA ( SUARABARU.ID) — Pemerintah Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, bersama berbagai unsur masyarakat resmi membentuk Desa Sehat Iklim (DEKSI) sebagai langkah nyata memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

Pembentukan DEKSI yang berlangsung di Balai Desa Ngetuk, Rabu (22/7/2026), melibatkan pemerintah desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Ketua RW, Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, kader Posyandu, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, kelompok tani, tenaga kesehatan Puskesmas Nalumsari II, serta perwakilan berbagai elemen masyarakat.

blank
Participatory Kit, sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat dalam Program DEKSI. Foto: Dok.

Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam membangun desa yang sehat, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, SKM., S.Kep., MMKes., MM, melalui pesan WhatsApp kepada awak media menyampaikan bahwa perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan hidup.

“DEKSI bukan sekadar program kesehatan, tetapi sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengenali risiko di lingkungannya sendiri, menyusun solusi bersama, dan membangun ketahanan desa menghadapi perubahan iklim secara berkelanjutan. Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat,” ujar Hadi.

Menurutnya, Desa Ngetuk memiliki sejumlah kerentanan yang membutuhkan penanganan secara terpadu. Secara geografis, wilayah Kecamatan Nalumsari didominasi kawasan perbukitan dengan daerah aliran sungai yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi, terutama banjir saat curah hujan tinggi, menjadi alasan penting dibentuknya DEKSI sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

blank
Fasilitaor dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Asrori, menjelaskan langkah-langkah dan intrumen dalam membentuk Desa Sehat Iklim. Foto: Dok.

Petinggi Desa Ngetuk, Farullidayano, menyambut baik pembentukan DEKSI. Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah desa berkomitmen mengintegrasikan berbagai program yang telah berjalan agar mampu mendukung tujuan pembangunan desa yang sehat dan tangguh terhadap perubahan iklim.

“Kami berharap melalui DEKSI masyarakat semakin mandiri, peduli terhadap lingkungan, dan memahami ancaman perubahan iklim. Desa Ngetuk telah memiliki sejumlah program yang sejalan, seperti Bank Sampah dan keberhasilan sebagai Desa Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) lima pilar. Semua potensi tersebut akan kami sinergikan agar desa menjadi lebih tangguh,” katanya.

blank
Fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara Rukmawati menggali permasalahan kesehatan di Desa Ngetuk dengan Participatory Kit. Foto: Dok.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan pembentukan Tim Kerja Masyarakat DEKSI yang akan menjadi motor penggerak berbagai kegiatan adaptasi perubahan iklim di tingkat desa. Tim tersebut diketuai Mashuri dengan Wakil Ketua Sapari, didukung Sekretaris Lilik Supriyati dan Tri Indah Lestari, serta Bendahara Masruah.

Dalam menjalankan program, tim dibagi ke dalam tiga unit kerja. Unit Pengadaan Sarana dan Prasarana beranggotakan Azamroni, Aristiyono, dan Muhimatin Wafiroh yang bertugas mendukung penyediaan fasilitas penunjang kegiatan DEKSI. Unit Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) diperkuat oleh Budi Raharjo, Pitono, dan Sapuan yang akan menggerakkan edukasi masyarakat mengenai adaptasi perubahan iklim dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sementara itu, Unit Pemberdayaan Masyarakat diisi oleh Nur Zaimah, Ramadhan Ady Putra, Lintang Kurniasari, Joko Priyono, Wisnu Samodra, Wahyono, dan Nor Iwan. Unit ini akan menjadi ujung tombak dalam menggerakkan partisipasi masyarakat, membangun gotong royong, serta mengawal implementasi berbagai aksi adaptasi perubahan iklim di lingkungan desa.

Tenaga Sanitarian Puskesmas Nalumsari II, Anni Rakhmawati, A.Md, menjelaskan bahwa perubahan iklim memberikan dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat sehingga peningkatan kapasitas warga menjadi bagian penting dalam membangun desa yang tangguh.

“Masyarakat perlu mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui perilaku hidup bersih dan sehat, pengelolaan lingkungan yang baik, serta pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Upaya ini akan jauh lebih efektif apabila dilakukan bersama-sama oleh seluruh warga,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, fasilitator dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Asrori, memperkenalkan metode Participatory Kit, yaitu pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menjadi salah satu instrumen utama dalam Program DEKSI. Melalui metode ini, masyarakat diajak belajar secara partisipatif melalui permainan edukatif, diskusi kelompok, dan pemetaan kondisi lingkungan desa.

Warga secara bersama-sama mengidentifikasi wilayah yang rawan banjir, lokasi dengan risiko tinggi penyebaran DBD, hingga kawasan yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Selanjutnya, seluruh peserta berdiskusi untuk menentukan prioritas permasalahan sekaligus menyusun rencana aksi yang realistis dan dapat dilaksanakan secara gotong royong.

Menurut Asrori, pendekatan tersebut mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan kesehatan dan lingkungan, bukan sekadar penerima program pemerintah.

“Ketika masyarakat mampu mengenali persoalan di lingkungannya sendiri, mereka juga akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk menyelesaikannya. Inilah esensi pemberdayaan dalam Program DEKSI,” jelasnya.

Dengan terbentuknya organisasi DEKSI beserta tim kerja masyarakat, Desa Ngetuk kini memiliki fondasi kelembagaan yang kuat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Sinergi antara pemerintah desa, Dinas Kesehatan, Puskesmas, serta masyarakat diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tangguh, dan berkelanjutan.

Septiana W.