KOTA MUNGKID
(SUARABARU.ID) –
Kirab Gunungan Ketep Summit Festival 2026 di Dusun Dadapan, Ketep, Sawangan, Kabupaten Magelang, berlangsung meriah, hari ini Minggu (19/7/26). Itu merupakan rangkaian Ketep Summit Festival 2026.
Dimulai pukul 09.41, paling depan Duta Wisata 2026. Disusul kontingen dari Desa
Wonokerto, Kecamatan Tegalrejo. Setelah itu dari Kecamatan Kajoran membawa musik tradisional dilengkapi audio. Juga membawa gunungan hasil bumi.
Giliran berikutnya dari Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, membawa gunungan sayur. Regu tersebut menampilkan seni tradisionalnya. Disusul regu dari
Pucungrejo, Kecamatan Muntilan.
Urutan selanjutnya regu dari Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag. Dari desa ini menampilkan gunungan apik, ada hiasan seperti topeng ireng.
Giliran ke enam dari Surodadi, Kecamatan Candimulyo, disusul dari Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan. Urutan ke delapan adalah regu Desa Kembanglimus, Borobudur. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 10.53.
Kendati hawa mulai panas, peserta tetap bersemangat. Ada regu dari Genito, Windusari. Disusul dari Desa
Punggangsari, Kaliangkrik.
Lantas regu dari Prajeksari, Tempuran, diikuti DesaSucen, Salam. Desa Mranggen, Srumbung pun tampil, disusul dari Bandongan.
Dalam event tersebut masing-masing regu menampilkan seni tradisional. Tak hanya tarian, ada beberapa yang dilengkapi musik tradisional.

Semua peserta tampil penuh semangat. Masing-masing membawa gunungan yang tergolong berat. Lantaran acara itu merupakan simbol syukur masyarakat atas limpahan potensi pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Magelang. Sekaligus sebagai upaya melestarikan seni dan budaya tradisional khas Magelang.
Kepala Disparpora Kabupaten Magelang, Farnia Berliani Sri Tulodho, menuturkan,
Ketep Summit Festival merupakan event tahunan yang mengangkat potensi pariwisata berbasis alam, budaya, dan edukasi. Festival itu digelar selama dua hari, 18 hingga 19 Juli 2026, dengan berbagai kegiatan seperti festival seni, pameran produk lokal UMKM, hiburan musik.
Diterangkan, kirab Gunungan menjadi puncak kemeriahan festival, di mana Gunungan hasil potensi dari 21 Kecamatan yang disusun dari berbagai potensi UMKM dan komoditas pertanian diarak oleh perwakilan masyarakat dari kecamatan di Kabupaten Magelang. “Tradisi itu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarat makna sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Diterangkan, gunungan yang diarak melambangkan kemakmuran dan kebersamaan. Setelah prosesi kirab, masyarakat dan pengunjung turut memperebutkan hasil bumi tersebut sebagai simbol berkah. Sebelumnya semua gunungan dinilai oleh panitia.
Ditambahkan, semarak budaya dan partisipasi masyarakat kirab gunungan itu dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya Kabupaten Magelang. Partisipasi aktif masyarakat dari seluruh kecamatan menjadikan kirab itu sebagai ajang kolaborasi budaya yang memperkuat identitas lokal. Dalam pelaksanaannya, kirab gunungan menjadi bagian penting dari rangkaian festival yang memadukan seni, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat melalui promosi produk lokal dan pariwisata.
Letak acara itu di kawasan objek wisata Ketep Pass yang berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl, dengan panorama Gunung Merapi dan pegunungan sekitarnya. Acara itu memberikan pengalaman wisata yang unik bagi pengunjung. Kirab Gunungan tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga berdampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor UMKM dan pariwisata.
“Melalui Kirab Gunungan Ketep Summit Festival 2026, diharapkan nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal dapat terus dilestarikan, sekaligus menjadi daya tarik wisata unggulan Kabupaten Magelang di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.
Eko Priyono













