blank
Dengan implementasi sistem monitoring nirkabel, intensitas kontak fisik langsung peternak dengan atmosfer dalam kandang yang pekat dapat dikurangi secara signifikan

PURWOREJO (SUARABAR.ID)— Riuh kokok Ayam, suara Burung Puyuh, serta kawanan Bebek dan Enthok (Itik) di pekarangan warga, seolah menjadi pemandangan dan aransemen musik alami, saat memasuki Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Desa ini telah lama eksis sebagai salah satu lumbung ternak unggas lokal yang potensial. Namun, di balik produktivitasnya yang tinggi, para peternak setempat masih harus bertarung dengan pola-pola konvensional yang menguras energi, waktu, dan kesehatan.

blank
Tim KKN-T IDBU 59 mendampingi masyarakat melalui serangkaian observasi, diskusi, perancangan, hingga implementasi inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan peternak setempat.

Realitas inilah yang menggerakkan Tim Mahasiswa KKN-T IDBU 59 Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang yang beranggotakan 28 mahasiswa untuk turun tangan membawa angin perubahan berbasis teknologi murni. Selama 45 hari (26 Juni-10 Agustus) pelaksanaan, Tim KKN-T IDBU 59 mendampingi masyarakat melalui serangkaian observasi, diskusi, perancangan, hingga implementasi inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan peternak setempat.

Melalui rangkaian observasi partisipatif serta ruang diskusi hangat bersama perangkat desa dan komunitas peternak lokal, Tim KKN-T IDBU 59 berhasil memetakan akar masalah yang selama ini menghambat efisiensi budidaya. Pola pemantauan suhu kandang terbukti masih mengandalkan intuisi manual. Akibatnya, perubahan suhu yang berpotensi mengganggu produktivitas unggas sering kali terlambat diantisipasi.

Krisis energi sering kali terlambat diantisipasi. Mengingat tingginya ketergantungan operasional kandang pada jaringan listrik konvensional PLN, upaya untuk beralih kini mendorong lahirnya bentuk budidaya energi bersih. Langkah ini menjadi solusi strategis, bukan sekadar untuk operasional harian, melainkan untuk membangun kemandirian energi dan mengamankan masa depan peternak.

Menjawab persoalan tersebut, Tim KKN-T IDBU 59 UNDIP merancang teknologi tepat guna bertajuk Semi-Automatic Poultry House. Konsep kandang semi-otomatis ini memadukan keandalan sistem digital dan tenaga manusia demi efisiensi operasional. Inovasi tersebut mengkolaborasikan sistem kontrol nirkabel berbasis modul ESP dengan kemandirian energi berbasis panel surya.

Melalui sensor terintegrasi, kondisi suhu, kelembaban, dan kualitas udara di dalam kandang dapat dipantau secara presisi dan real-time, sehingga memudahkan peternak bekerja sama dengan sistem otomatis dalam menjaga kenyamanan ternak. Langkah revolusioner tidak berhenti di sana. Aspek keberlanjutan diperkuat dengan menempatkan panel surya sebagai jantung pasokan energi utama kandang.

Implementasi Energi Baru Terbarukan (EBT) ini memutus ketergantungan peternak pada jaringan listrik PLN, mentransformasikan sistem budidaya menjadi operasional yang mandiri dan ramah lingkungan.
Menariknya, inovasi ini juga membawa dampak implisit terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor informal. Dengan adanya sistem monitoring nirkabel, intensitas kontak fisik langsung peternak dengan atmosfer dalam kandang yang pekat dapat dikurangi secara signifikan.

Langkah ini secara otomatis memitigasi risiko gangguan pernapasan kronis akibat paparan kumulatif dari debu biologis pakan dan gas amonia dari kotoran unggas.
“Inovasi ini tidak lahir dari menara gading akademis, melainkan dirancang berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat akar rumput! ” kata Farid Al Ayubi, Ketua Tim KKN-T IDBU 59 UNDIP, kepada SUARABAR.ID.

Langkah progresif ini pun mendapat respon positif dan apresiasi tinggi dari pemerintah setempat.
“Apresiasi setinggi yang untuk kehadiran Tim KKN-T IDBU 59 UNDIP di desa kami sudah memberikan kontribusi nyata membangun jembatan emas bagi modernisasi desa tanpa kehilangan identitas agrarisnya.” Kepala Desa Tangkisan, Bambang Paryadi.(age).