blank
Forum Ta'aruf Siswa Baru (Fortasi)—di SMK Muhammadiyah 01 Keling, Rabu (15/7/2026) saat memberikan penyuluhan kesehatan. Foto: Kusnitah

JEPARA (SUARABARU.ID) – Ada yang berbeda dari hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)—atau yang akrab disebut Forum Ta’aruf Siswa Baru (Fortasi)—di SMK Muhammadiyah 01 Keling, Rabu (15/7/2026). Jika biasanya hari ketiga diisi dengan keliling sekolah atau menghafal visi-misi, ratusan siswa baru tahun ajaran 2026/2027 justru diajak “mengintip” realitas kelam yang mengancam masa depan mereka.

Tepat pukul 08.30 WIB, aula sekolah mendadak riuh saat Bidan Prety, perwakilan dari Puskesmas Keling 1, sampaikan materi di depan peserta fortasi. Bukan membawa jarum suntik atau tensimeter, kehadirannya kali ini adalah untuk menantang nalar kritis para remaja melalui materi : Bahaya Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (Napza).

blank
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)—atau yang akrab disebut Forum Ta’aruf Siswa Baru (Fortasi)—di SMK Muhammadiyah 01 Keling, Rabu (15/7/2026). Foto: Kusnitah

Mengapa Materi Napza Masuk Ruang Fortasi?

Di usia remaja yang penuh rasa ingin tahu, benteng pertahanan pertama adalah informasi yang benar. Puskesmas Keling 1 sengaja membidik momen Fortasi ini sebagai langkah preventif (pencegahan) dini.

Dalam paparannya, Bidan Prety tidak hanya menjelaskan definisi Napza secara teoritis, melainkan membongkar taktik terselubung bagaimana zat berbahaya tersebut kerap mengintai anak-anak usia sekolah. Mulai dari iming-iming suplemen penambah fokus belajar, hingga tren pergaulan keliru yang bisa merusak sistem saraf otak secara permanen.

“Kalian masuk ke SMK ini untuk merakit masa depan dan keahlian, bukan untuk merusaknya dengan coba-coba hal yang menghancurkan impian,” tegas Bidan Prety di hadapan para siswa baru yang menyimak dengan antusias.

Pendekatan Unik yang Bikin Siswa Enggan Berkedip

Alih-alih memberikan ceramah satu arah yang membosankan, Bidan Prety mengemas sosialisasi ini secara interaktif. Diskusi dua arah dan simulasi dampak psikologis akibat zat adiktif berhasil memutus rasa kantuk para peserta Fortasi di jam-jam rawan pagi itu.

Pihak SMK Muhammadiyah 01 Keling berharap, lewat sinergi bersama fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Keling 1, para siswa baru tidak hanya siap secara akademis dan mental di lingkungan sekolah yang baru, tetapi juga memiliki “perisai” yang kuat untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan Napza di luar sekolah.

Hari ketiga Fortasi ini pun ditutup dengan komitmen bersama dari para siswa baru: menjadi generasi kreatif yang berprestasi tanpa ketergantungan zat berbahaya.

Hadepe – Kusnitah