Oleh: Amir Machmud NS
// sepak bola adalah permainan/ dengan energi kegembiraan/ ekspresi kebahagiaan tanpa beban/ luapan rasa tanpa tekanan//
(Sajak “Kegembiraan Lionel Messi”, 2026)
BENARLAH apa yang digambarkan oleh legenda Manchester United, Eric Cantona, beberapa tahun silam. Kata dia, penampilan hebat Lionel Messi karena didukung oleh “kegembiraan” hatinya. Dia memuji Messi sebagai pesepak bola dari planet lain.
“Lihatlah, dia meluapkan nalurinya sebagai anak-anak yang bermain di padang bebas. Dia bagai anak-anak yang ingin mewujudkan impian masa kecilnya. Kemampuan Messi akan keluar semua,” ucap Cantona, suatu ketika.
Dan, benar saja. “Tesis” itu terbukti.
Simaklah kemenangan Argentina 3-0 di laga perdananya melawan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026, 17 Juni lalu. Ketiga gol diborong oleh Messi ke gawang Luca Zidane. Messi dinobatkan sebagai Man of the Match. Sejak kepesertaannya di Piala Dunia 2006, akhirnya dia menyamai rekor pencetak gol terbanyak Piala Dunia, 16 gol atas nama bintang Jerman, Miroslav Klose.
Usia Messi sudah mendekati 39, namun dia tampak menikmati pertandingan. Bertemu salah satu wakil Afrika, Aljazair, seolah-olah Messi mendapatkan ruang untuk berekspresi dan mengubah laga sendirian. Pemain Inter Miami itu menghukum setiap kesalahan kecil yang dibuat lawan.
Sepanjang laga, dia melepas enam tembakan, empat mengarah ke gawang, dan tiga terkonversi menjadi gol. Messi menjawab semua keraguan. Penempatan posisinya benar-benar visioner. Penyelesaiannya masih tajam, dengan pergerakan yang fleksibel, meskipun kecepatannya menurun karena faktor fisik.
Gelandang bertahan Argentina, Rodrigo de Paul menilai, kekuatan utama Lionel Messi saat ini adalah pikirannya. La Pulga tak lagi menanggung beban besar sebagaimana sebelum-sebelumnya, karena sudah memenangi segalanya.
Artinya, dia tinggal menikmati pertandingan. Messi tak perlu lagi membuktikan apa pun.
De Paul mengibaratkan, Messi itu binatang buas. “Hal yang paling membuat saya senang adalah merasa sekarang dia menikmati permainan ini,” ujar De Paul seperti dikutip The Guardian (detik.com, 18 Juni 2026).
“Dia tak lagi merasakan beban dari tekanan yang telah dia rasakan begitu lama. Semua orang tahu mentalitasnya. Dia selalu fokus membantu kami dan tim. Saya melihat dia bahagia. Itu menular ke tim ini,” ungkap De Paul.
Sedangkan Zlatan Ibrahimovic melukiskan perasannya, betapa sepak bola seolah-olah tercipta untuk Lionel Messi. Ibra menjadi salah satu yang tersihir.
Legenda AC Milan yang dikenal arogan itu menegaskan, tak ada yang bisa membantah Messi adalah pemain terhebat sepanjang masa. Ia yakin takkan ada lagi pemain sespesial Messi di masa mendatang.
“Jangan percaya kita akan mendapatkan Messi lain, karena dia istimewa. Dia bakat alam. Seolah-olah permainan ini diciptakan untuknya. Segala sesuatu yang dia sentuh menjadi emas. Dia juga memiliki tim yang siap mati untuknya,” ujar Ibrahimovic dikutip dari FOX Sports.
“Kemenangannya di Piala Dunia lagi tidak akan mengubah status sebagai yang terhebat. Itu hanya trofi lain di ruang trofi,” jelas pengidola Ronaldo Nazario ini.
Tak Lagi Diragukan
Rekor-rekor dan performanya menegaskan, Messi tak lagi diragukan sebagai The Greatest of All Times (GOAT). Delapan trofi Ballon d’Or, dua Copa America, Piala Dunia, gelar-gelar liga, dan Liga Champions membuktikan dia unggul dari semua pesaingnya, terutama yang dalam dua dekade terakhir selalu diperbandingkan: mana yang lebik baik, Messi atau Cristiano Ronaldo.
Penampilan awal di Piala Dunia ini makin menguatkan realitas, Messi mengungguli Ronaldo. Bahkan Ronaldo Brazil — Ronaldo Luis Nazario — menyatakan, tak ada lagi yang pantas diragukan dari Messi bahwa dia adalah yang terbaik. Dunia, kata Ronaldo, harus menutup mata dan mengakui kenyataan, Messi adalah pemain terbaik yang pernah ada.
Perkara apakah Messi akan memimpin Argentina membawa pulang gelar seperti yang diraih pada 2022, semua harus ditunggu, kendati apa pun yang terjadi tak akan mengubah posisi Messi.
Argentina masih harus menjalani dua laga berikut di Grup J, melawan Austria (23 Juni), dan Yordania (28 Juni) dalam perjuangan fase grup.
Entah berapa tahun lagi kita akan melihat pemain sehebat Messi. Dalam sejarah sepak bola, Pele, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Michel Platini, Diego Maradona, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, sedemikian fenomenal melintas zaman, namun Messi tetap merupakan pengecualian.
Apakah eksepsionalitas itu bakal muncul lagi setelah era La Pulga?
Kita hanya menunggu anugerah Tuhan. Beruntunglah kita, masih menyaksikan aksi-aksi Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola, karena secara realistis ini adalah Piala Dunia-nya yang terakhir.
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id —













