SEMARANG (SUARABARU.ID)– Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Semarang (USM), baru-baru ini menyelenggarakan sosialisasi komunikasi gender bertajuk ‘Ruang Aman untuk Semua’, di SMK Negeri 2 Semarang.
Para mahasiswa itu terdiri dari Ketua Wiku Dwi Aji Pramono, Sekretaris Muhammad Dava Aji Pratama, Bendahara Nadya Puspa Zahra, anggota Ikhsan Ramadhan, Lusyana Dewinta Sari, Rayhan Atalla , Praja Adi Dharma, Mohamad Sabiqul Umam, Gunawan Bima Kusuma, dan Ika Fistiana.
Menurut Wiku, kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas, yang diampu dosen Retno Manuhoro Setyowati SSos MIKom.
BACA JUGA: BEM USM Studi Banding dengan Tujuh BEM Semarang Raya
Kegiatan yang diikuti kelas X Jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) itu, mengusung tagline ‘Saling Rangkul, Bukan Saling Sikut: Wujudkan Ruang Aman Bersama’.
”Tujuan kegiatan ini, untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, suportif, dan bebas dari perilaku diskriminasi maupun perundungan sosial,” katanya.
Sementara itu dalam materinya, Praja Adi Dharma menjelaskan konsep safe space atau ruang aman, sebagai lingkungan yang memungkinkan setiap individu merasa dihargai, didengarkan, dan diterima tanpa rasa takut akan adanya stigma, penghakiman, maupun pengucilan sosial.
BACA JUGA: Mahasiswi Ilkom USM Juara III Tenis Meja Airlangga Open VIII/2026

Materi yang disampaikan juga menyoroti berbagai fenomena yang kerap terjadi di lingkungan remaja. Seperti pembentukan kelompok eksklusif (geng atau circle), perilaku saling menghakimi, body shaming, hingga konflik interpersonal, yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan kenyamanan siswa di sekolah.
”Ruang aman, bukan berarti semua orang harus selalu setuju satu sama lain. Tetapi bagaimana kita bisa saling menghargai, tanpa menjatuhkan. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa merasa nyaman untuk berkembang, dan menjadi diri sendiri tanpa takut dikucilkan,” ujar Praja.
Kegiatan diawali dengan mengajak para siswa menyaksikan film pendek, yang mengangkat isu pertemanan dan pengucilan sosial. Setelah penayangan film, peserta diberikan lembar refleksi untuk menuliskan pandangan, perasaan, serta pelajaran yang mereka peroleh dari tayangan itu.
BACA JUGA: Mahasiswa Ilkom USM Dorong Kesetaraan Gender di Kalangan Pelajar SMKN 1 Semarang
”Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama, untuk membahas hasil refleksi yang telah dituliskan,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Nadya Puspa Zahra. Dia berharap, para siswa tidak hanya menonton film pendek, tetapi juga berani menyampaikan yang mereka rasakan dan pikirkan.
”Kami berharap, mereka bisa lebih memahami pentingnya empati, saling menghargai, dan menjaga perasaan satu sama lain, dalam lingkungan pertemanan,” ungkap Nadya.
Riyan













