PURWOREJO (SUARABARU.ID) – Dorong irigasi berkelanjutan melalui Pompa Tenaga Surya 15 Horse Power (HP) berkapasitas distribusi air hingga 200 m³/jam, Agros menghadirkan solusi irigasi modern untuk petani Indonesia.
PT Agros Global Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pompa tenaga surya dan solusi irigasi pertanian berkelanjutan, berhasil menyelenggarakan kegiatan peringatan Hari Bumi di Desa Krandegan Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo, (21/5). Acara ini menghadirkan kolaborasi nyata antara komunitas petani, pemerintah daerah, dan mitra strategis dalam mewujudkan pertanian yang lebih efisien,
ramah lingkungan, dan berdaya saing.
Kegiatan Hari Bumi di Desa Krandegan dirancang sebagai platform edukasi dan demonstrasi nyata mengenai penerapan energi terbarukan di sektor pertanian. Program ini secara khusus menyasar tiga tujuan utama: meningkatkan kesadaran petani dan masyarakat desa terhadap
pentingnya efisiensi energi, mendorong peralihan dari sistem irigasi konvensional berbahan bakar fosil menuju teknologi solar, serta mendukung target pengurangan emisi karbon nasional melalui praktik pertanian berkelanjutan.
Seluruh rangkaian kegiatan melibatkan kelompok tani (Gapoktan) setempat, perangkat desa, dinas pertanian daerah, serta mitra keuangan yang mendukung skema pembiayaan fleksibel bagi petani.
Pompa tenaga surya yang didemonstrasikan dalam kegiatan ini merupakan sistem irigasi terintegrasi yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber daya utama. Berbeda dengan pompa konvensional yang bergantung pada bahan bakar minyak atau listrik PLN, sistem ini beroperasi secara mandiri menggunakan panel surya sehingga mengurangi ketergantungan terhadap energi tak terbarukan sekaligus menekan biaya operasional secara signifikan.
Spesifikasi Utama Pompa Tenaga Surya Agros:
• Kapasitas daya: 15 HP (Horsepower) — cocok untuk lahan pertanian skala menengah
hingga besar
• Kapasitas distribusi air: hingga 200 m³/jam — mampu mengairi puluhan hektare lahan dalam satu siklus operasional
• Sumber energi: panel surya, tanpa emisi karbon langsung
• Ketahanan operasional: dirancang untuk kondisi lapangan Indonesia, termasuk
daerah dengan infrastruktur listrik terbatas
• Kemudahan perawatan: sistem modular yang dapat dirawat oleh teknisi lokal terlatih
Penerapan sistem pompa tenaga surya di Desa Krandegan diperkirakan memberikan dampak positif yang terukur bagi komunitas pertanian setempat.

Petani tidak lagi perlu mengeluarkan biaya bahan bakar yang kerap tidak stabil, sehingga margin keuntungan usaha tani dapat meningkat. Ketersediaan air irigasi yang lebih andal juga memungkinkan petani untuk memperluas musim tanam dan meningkatkan produktivitas lahan secara keseluruhan.
Dari sisi lingkungan, pengurangan penggunaan pompa berbahan bakar solar berkontribusi langsung pada penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat desa, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi antara berbagai pemangku kepentingan.
Agros menjalin kerjasama erat dengan pemerintah desa dan dinas pertanian kabupaten untukmemastikan program sesuai dengan prioritas pembangunan daerah. Kelompok tani lokal
dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga operasional, memastikan rasa kepemilikan
komunitas terhadap teknologi yang digunakan. Dukungan pembiayaan fleksibel, termasuk skema bayar-setelah-panen (YARNEN), turut membuka akses bagi petani yang belum memiliki kemampuan investasi di muka.
“Melalui kegiatan Hari Bumi ini, kami ingin menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan bukan
sekadar wacana. Pompa tenaga surya Agros adalah bukti bahwa teknologi tepat guna dapat hadir di tengah sawah, memberikan solusi nyata bagi petani kita.” kata Max Nelen CEO Agros kepada SUARABARU.ID.
Ke depan, Agros berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program irigasi tenaga surya ke lebih banyak desa di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah yang memiliki potensi
pertanian besar namun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur energi. Peringatan Hari Bumi di Desa Krandegan menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi dan keberdayaan komunitas dapat berjalan beriringan demi masa depan pertanian Indonesia yang lebih cerah dan berkelanjutan.
“Hari ini kita akan replikasi wilayah yang punya problema senada dengan Krandegan, kita akan tularkan ke desa lain nanti kita sharing dan riset untuk lebih tepat sasaran aplikasi seperti di desa mana yang bisa kita dilakukan hal seperti ini. Negara Ini Emirat Arab yang penghasil Minyak Bumi saja memanfaatkan pembangkit tenaga surya. ” kata Wakil Bupati Purworejo, Dion Agassi Setiabudhi dalam sambutannya.
Tak kurang decak kagum dan apresiasi dilontarkan kepada pemdes Krandegan, seperti pernyataan H. Alipman Syafi’i, S.E. Anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari PDI Perjuangan untuk Daerah Pemilihan (Dapil) 3 (Kecamatan Banyuurip dan Kecamatan Bayan yang hadir dalam kesempatan ini.
“Kami apresiasi setinggi Desa Krandegan dengan semua Mitra yang bisa gerakan Pompa energi surya untuk kebutuhan petani. Manfaat begitu nyata, menambah kualitas dan kuantitas hasil pertanian….1 tahun bisa tambah beberapa kali panen!” kata Alipman Syafi’i, S.E.
Tak heran Krandegan mampu tumbuh menjadi desa digital percontohan dengan beberapa prestasi prestisius tahun 2026: Juara 3 Nasional Lomba Desa Digital Kemendes, Juara I Desa Digital Unggulan Nasional dari Detikcom, dan juara I Desa Mandiri Energi Tahun 2026 tingkat Propinsi Jawa Tengah.
Kinerja Pemdes Krandegan yang memang beda dan melek IT ini menjadi desa pilot project era digital . Tak heran daftar tamu penting sengaja hadir dalam acara ini, yakni
Wakil Bupati Purworejo: Dion Agassi Setiabudi,S.I.Kom, M.Si., CEO Agros Global: Mr. Max Jean H Nelen, Ketua DPRD Purworejo: Rudi Hartono, Rektor UIN Suska Riau Prof. DR. Hj. Leny Nofianti MS, S.E., M.Si., Ak, CA beserta Pembantu Rektor, Pembantu Dekan Fakultas Sains dan Teknologi serta staf, Jajaran Forkopimda Purworejo atau yang mewakili, Tim Sinau Bumi / Suryo Riset Indonesia / IPB, Dekan Fakultas Teknik UMP beserta Kaprodi, Para Kepala Dinas dan Badan: DPPPAPMD, LH, Baperida, DKPP, Cabang Dinas ESDM wilayah Serayu Selatan, Camat beserta jajaran Forkopimcam,
Pimpinan Polosoro, PPDI dan FK BPD, Koordinator PPL Pertanian Bayan, Para Kades dan Lurah, Ketua IP3A DI Kedungputri beserta para kelompok tani, Para tokoh masyarakat, warga dan undangan, tak lupa para Ulama:, KH Syaifuddin, KH Muslich Effendi. dan K. Syafi’i.
Kades Krandegan, Dwinanto menambahkan, pengembangan energi tenaga surya di Krandegan tidak dilakukan secara instan. Desa tersebut telah memulai penggunaan pompa tenaga surya secara mandiri beberapa tahun lalu sebelum akhirnya menjalin kolaborasi dengan pihak swasta dan perguruan tinggi.
Semua keberhasilan pembangunan desa tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan masyarakat.
“Kami menyadari membangun desa tidak bisa sendiri. Harus menggandeng pihak swasta dan kampus. UIN yang pertama kali mengenalkan kami dengan tenaga surya melalui Mas Wahyu dari BMKG. Mereka juga membuat master plan pembangunan PLTS di Krandegan,” tambahnya.
Selain UIN Suska Riau, Desa Krandegan juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi lain seperti Universitas Muhammadiyah Purworejo untuk pengembangan teknologi informasi, serta UNS dan ITB untuk sektor pertanian dan energi.
Menurut Dwinanto, penggunaan pompa tenaga surya telah membawa dampak besar bagi pertanian di desanya. Saat ini, petani di Krandegan sudah mampu panen hingga tiga kali dalam setahun.(age).













