GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Di tengah arus modernisasi, masyarakat Kabupaten Grobogan masih memegang teguh kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu yang paling ikonik adalah tradisi Apitan. Bukan sekadar keramaian desa, Apitan menyimpan filosofi mendalam tentang keseimbangan alam dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Pemerhati budaya Grobogan, Muhadi, menjelaskan bahwa secara etimologi dan kalender, Apitan merujuk pada bulan dalam penanggalan Jawa yang terletak di antara dua bulan besar penuh keberkahan, yakni bulan Syawal (Idulfitri) dan bulan Besar (Iduladha).
BACA JUGA : Jadi Ajang Unjuk Kreativitas Pelajar, FLS3N SMA/SMK Kabupaten Jepara 2026 Digelar di Tiga Lokasi
“Bulan ini disebut bulan ‘apit’ atau kejepit. Dalam maknanya, posisi ini menjadi simbol ruwatan bagi masyarakat agar tidak terhimpit oleh kondisi alam, ekonomi, maupun lingkungan sosial yang menyulitkan,” ujar Muhadi, Minggu (10/5/2026).
Simbol Ruwatan dan Sedekah Bumi
Bagi warga Grobogan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, bulan Apit diyakini sebagai momentum keberpencaran berkah.
Muhadi menegaskan, tradisi ini menjadi wujud kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga alam yang telah memberikan keberlimpahan pangan.

Dalam praktiknya, tradisi Grobogan ini sering diwujudkan dalam bentuk upacara Sedekah Bumi. Upacara digelar dengan menampilkan tradisi yang membuat masyarakat ikut khidmat di dalamnya.
1. Gunungan Hasil Bumi: Melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah.
2. Tumpengan: Simbol rasa syukur yang mengerucut kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Penyembelihan Hewan: Seperti kerbau, yang dijadikan sesaji persembahan kepada Sang Pencipta agar masyarakat diberi kekuatan serta dijauhkan dari mara bahaya selama bulan Apit.
Tak Hanya di Daratan
Menariknya, Muhadi menambahkan bahwa semangat Apitan tidak hanya milik masyarakat agraris di daratan. Di wilayah pesisir Jawa Tengah, tradisi serupa dilakukan dengan sebutan Sedekah Laut.
BACA JUGA : Dari Lantai Tanah Menjadi Keramik, Rumah Warga Puro Kini Lebih Layak dan Nyaman
Meski mediumnya berbeda—yakni hasil laut—esensinya tetap sama: ungkapan syukur atas rezeki yang melimpah dari perairan.
Melestarikan Warisan Leluhur
Pelestarian tradisi Apitan dinilai sangat krusial di era sekarang.
Selain sebagai identitas budaya, Apitan adalah bentuk penghormatan dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan yang diberikan kepada warga desa.
“Apitan mendidik kita untuk peduli pada alam. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita dari kesulitan hidup,” tambah Muhadi.
Hingga kini, perayaan Apitan di berbagai desa di Grobogan terus menjadi daya tarik wisata budaya.
Momentum Apitan ini sekaligus pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya nilai gotong royong dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
TYA WIDYA













