blank
Permainan tradisional Jingklong di KB Cendekia Bapangan, Jepara. Foto: Zaroatun Khasanah

blank

Oleh : Zaroatun Khasanah

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang telah begitu menyita perhatian anak-anak,  KB Cendekia memilih untuk kembali ke akar budaya dengan menghidupkan permainan tradisional jingklong.  Permainan ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan sebuah solusi cerdas dan menyenangkan untuk melatih motorik kasar anak usia dini, yang dikemas secara menarik.

Jingklong, yang juga dikenal sebagai Engklek atau Jlong-jling, adalah permainan tradisional melompat menggunakan satu kaki pada petak-petak yang digambar di tanah. Pemain menggunakan “gaco” (batu pipih atau pecahan genteng) yang dilempar ke dalam petak-petak tersebut sebagai bagian dari permainan. Permainan ini melibatkan serangkaian gerakan fisik yang terstruktur.

Permainan Jingklong dipilih karena memberikan manfaat signifikan dalam melatih motorik kasar anak usia dini. Gerakan melompat dengan satu kaki secara berulang melatih keseimbangan, kekuatan otot kaki, serta koordinasi tubuh secara keseluruhan. Selain itu, Jingklong juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kejujuran (dalam mengikuti aturan dan mengakui pelanggaran), interaksi sosial (bekerja sama, menunggu giliran), dan apresiasi terhadap warisan budaya Indonesia.

Permainan ini dilaksanakan di KB Cendekia Bapangan saat jam pembelajaran inti dilingkungan sekolah atau saat bermain sambil belajar. Pihak yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi guru sebagai fasilitator, anak-anak sebagai peserta didik, serta dapat pula melibatkan orang tua dalam kegiatan tertentu sebagai bentuk dukungan pembelajaran.

Guru kelas menyatakan bahwa di KB Cendekia, Jingklong biasanya diintegrasikan dalam jadwal kegiatan bermain di luar ruangan (outdoor play) atau sebagai bagian dari sesi pembelajaran tematik yang berkaitan dengan permainan tradisional atau aktivitas fisik. Waktu pelaksanaannya disesuaikan agar anak mendapatkan manfaat maksimal tanpa mengganggu jadwal pembelajaran lainnya.

Permainan Jingklong dimainkan di area terbuka atau lapangan yang aman dan memadai di lingkungan KB Cendekia. Area ini disiapkan dengan menggambar pola Jingklong yang terdiri dari delapan kotak persegi dan satu area setengah lingkaran (“bulan”) di bagian atasnya, menggunakan kapur atau cat yang aman.

Urutan bermain ditentukan dengan suit atau hompimpa. Pemain melempar gaco ke kotak pertama, lalu melompat satu kaki melewati semua kotak sampai ke area bulan dan kembali sambil mengambil gaco. Setelah satu putaran, lempar gaco sambil membelakangi pola untuk menentukan kotak milik sendiri yang tidak boleh diinjak lawan. Giliran beralih jika gaco keluar garis, kaki menyentuh garis, atau menginjak kotak milik orang lain.

Terlihat jelas bagaimana KB Cendekia secara strategis menggunakan permainan tradisional Jingklong sebagai media edukatif yang holistik. Jingklong tidak hanya menjadi sarana rekreasi yang asyik, tetapi juga alat efektif untuk mengembangkan motorik kasar, keseimbangan, dan kelincahan anak, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter dan kecintaan pada budaya.

Penulis adalah guru di KB Cendekia Bapangan. Jepara