blank
Inovasi-inovasi di bidang kesehatan yang berasal dari RSUP Kariadi, RSUP Mohammad Hoesein, Poltekkes Surabaya, dan BBPK Jakarta

JEPARA (SUARABARU.ID) – Ruang pelatihan di lingkungan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang tampak berbeda pada Rabu, 22 April 2025. Bukan sekadar forum formal Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS, ruang kelas virtual itu berubah menjadi panggung ide, tempat para ASN muda Kementerian Kesehatan mempresentasikan inovasi nyata yang langsung bersentuhan dengan pelayanan publik. Di tengah suasana penuh antusiasme, Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, memimpin jalannya seminar laporan aktualisasi dengan pendekatan yang energik sekaligus reflektif.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Bapelkes Semarang dan Bapelkum Semarang, yang menghadirkan sinergi lintas bidang, yaitu kesehatan dan hukum. Kolaborasi berjalan untuk membangun kompetensi ASN yang tidak hanya teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan regulasi dan inovasi layanan. Seminar ini menjadi titik temu antara teori pelatihan dan praktik lapangan, menghadirkan sepuluh inovasi dari peserta lintas instansi kesehatan nasional.

blank
Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, memimpin jalannya seminar laporan aktualisasi dengan pendekatan yang energik sekaligus reflektif.

Peserta berasal dari berbagai institusi strategis, mulai dari RSUP Kariadi Semarang, RSUP Mohammad Hoesin Palembang, Poltekkes Surabaya, hingga BBPK Jakarta. Masing-masing membawa gagasan yang telah diimplementasikan di unit kerja mereka selama 5 pekan. Menjadikan forum ini bukan sekadar presentasi, melainkan showcase transformasi pelayanan kesehatan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Dr. Muh Khamdan, yang bertindak sebagai coach, tidak hanya mengarahkan jalannya seminar, tetapi juga menantang para peserta untuk berpikir lebih jauh. Ia menekankan pentingnya keberanian ASN muda untuk menjadi pelopor perubahan. “Inovasi bukan berhenti pada ide, tetapi harus berdampak dan berkelanjutan,” tegasnya di hadapan peserta.

Peran penguji diemban oleh Ana Adina Patriani, Kepala Bapelkes DI Yogyakarta, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas inovasi yang ditampilkan. Ia menilai bahwa sebagian besar gagasan peserta telah menjawab persoalan riil dalam pelayanan kesehatan, khususnya pada aspek keperawatan dan administrasi ketenagaan kesehatan rumah sakit.

blank
Peserta berasal dari berbagai institusi strategis, mulai dari RSUP Kariadi Semarang, RSUP Mohammad Hoesin Palembang, Poltekkes Surabaya, hingga BBPK Jakarta

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah “Smart Box” yang dipresentasikan oleh Kiki Dinda Anggun Lestari, perawat dari RSUP Kariadi Semarang. Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan keamanan pengelolaan high alert medication (HAM), yakni obat-obatan dengan risiko tinggi yang dapat menimbulkan dampak fatal jika terjadi kesalahan. Dengan sistem pengamanan berbasis kontrol akses, Smart Box menjadi solusi konkret dalam meningkatkan patient safety.

Dari Palembang, Windy Dea Angreini Saputri menghadirkan “Smart Dental Card”, sebuah media edukasi digital bagi pasien pasca tindakan di poliklinik gigi. Inovasi ini memudahkan pasien memahami instruksi perawatan lanjutan secara praktis dan personal, sekaligus meningkatkan kepatuhan terhadap anjuran medis. Di tengah tantangan literasi kesehatan masyarakat, pendekatan ini dinilai sangat relevan.

Sementara itu, Handayani Puspita dari BBPK Jakarta memperkenalkan dashboard monitoring surat pimpinan berbasis Google Looker Studio. Inovasi ini memungkinkan pemantauan surat masuk dan keluar secara real time, meningkatkan transparansi dan efisiensi administrasi. Penguji bahkan memberikan apresiasi langsung atas keberhasilan integrasi data yang dinilai mampu mendukung pengambilan keputusan pimpinan secara cepat dan akurat.

Tak hanya berhenti pada presentasi, para peserta juga “disuntik” motivasi untuk melangkah lebih jauh. Dr. Muh Khamdan mendorong agar setiap inovasi yang telah dihasilkan tidak hanya diimplementasikan, tetapi juga didaftarkan sebagai hak kekayaan intelektual. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi karya sekaligus mendorong budaya inovasi berkelanjutan di lingkungan ASN.

Seminar ini menegaskan bahwa wajah baru ASN kesehatan tidak lagi identik dengan rutinitas administratif semata, tetapi sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi kreatif dan berdampak. Dari ruang pelatihan di Semarang, lahir harapan bahwa inovasi-inovasi ini akan terus berkembang, memperkuat kualitas layanan kesehatan Indonesia, dan menjawab tantangan zaman dengan semangat adaptif serta profesionalisme yang semakin matang.

Hadepe