JEPARA (SUARA BARU.ID) — Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini Jepara telah memberikan pendampingan pelatihan dan mengajar seni ukir kepada siswa jurusan Kriya Kayu di SMKN 2 Jepara, Senin (20 April 2026). Langkah ini menurut Kepala SMKN 2 Jepara Indria Mustika adalah bentuk kecil kolaborasi yang ingin dibangun untuk memperkuat pembelajaran di Kriya Kayu.
Disamping itu kehadiran pengukir perempuan di ruang praktek ini menurut Indria Mustika juga dalam rangka memperingati hari Kartini sekaligus mendorong peran perempuan di bidang kriya melalui praktik langsung menggunakan alat pahat dan media kayu di ruang workshop sekolah.

”Kahadiran pengukir terampil dari Paguyuban Pengukir Perempuan R.A. Kartini diharapkan dapat menjadi motivasi khusus bagi para siswa. Sebab para pengukir perempuan ini telah puluhan tahun mengabdi pada seni ukir,” ujar Indria Mustika
SMKN 2 Jepara dikenal sebagai satu-satunya sekolah menengah kejuruan di Kabupaten Jepara yang memiliki jurusan khusus Kriya Kayu. “Dalam kegiatan ini, para siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung teknik mengukir kayu dari praktisi berpengalaman, mulai dari pemilihan bahan, penggunaan alat, hingga teknik detail dalam membentuk motif khas Jepara,” pungkasnya

Ketua Paguyuban Pengukir Perempuan R.A Kartini Jepara, Rumini yang juga terlibat dalam pelatihan ini menekankan pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kreativitas dalam proses mengukir. Ia juga mengajak para siswa, khususnya perempuan, untuk tidak ragu menekuni bidang yang selama ini sering didominasi oleh laki-laki.
“Semangat Kartini harus terus kita hidupkan. Perempuan juga mampu berkarya di bidang ukir dan furniture, bahkan bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya saat mendampingi siswa di ruang praktik.
Sedangkan tim dari Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini yang turut dalam program ini adalah Rumini, Sulistiyani, Muskamah, Sri Bati dan Endar Wati.

Para siswa terlihat antusias mengikuti pelatihan. Dengan bimbingan langsung, mereka mencoba mengukir pola sederhana pada media kayu menggunakan pahat dan palu.
Guru pengampu, Rustam, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan sekaligus motivasi siswa. “Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat link and match antara dunia pendidikan dengan dunia industri dan pelaku seni lokal,” tuturnya.
Ia berharap, melalui pelatihan seperti ini, siswa tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga jiwa kewirausahaan di bidang furniture.
Pelatihan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan budaya ukir Jepara tetap relevan di tengah perkembangan zaman, serta menjadi ruang bagi perempuan untuk terus berkarya dan berkontribusi.
Hadepe – Ika Putri













