blank
UKSW luncurkan CSR-CMR, tegaskan Kampus Kristen sebagai ruang dialog dan perdamaian antar-agama. Foto: Dok/UKSW

Sementara itu, Kepala PKUB Kementerian Agama RI, H. Muhammad Adib Abdushomad, Ph.D., menyebut kolaborasi ini penting karena kerukunan tidak dapat dibangun sendirian. “Dialog dan silaturahmi adalah kunci. Karena itu sinergi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat harus terus diperkuat,” katanya.

Ia menambahkan, penandatanganan IA hari ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian INSPIRE 2026 yang akan membuka Call for Papers bagi para akademisi dan peneliti.

“Nantinya kami juga akan menggelar agenda Road to Inspire, juga pemutaran film-film bertema kerukunan dalam bahasa Inggris dan Arab yang diharapkan dapat digelar di berbagai universitas,” tambahnya.

Dialog Menembus Batas

Selain seremoni peluncuran, kegiatan ini juga menghadirkan seminar internasional dengan berbagai narasumber. Salah satu narasumber, Rektor UKSW Periode 1983–1993 Profesor Dr. (HC) Willi Toisuta, Ph.D., sekaligus Chairman of the Advisory Board CSR-CMR, menegaskan bahwa sejak awal UKSW dibangun sebagai kampus terbuka bagi semua golongan, agama, dan budaya.

“Pusat ini tidak boleh hanya bersifat akademik semata, tetapi juga harus menyentuh kebutuhan kemanusiaan, perkembangan kecerdasan buatan, peradaban, serta secara konsisten melanjutkan apa yang dibutuhkan oleh bangsa,” tandasnya.

Sementara itu, Profesor Fatimah Husein, Ph.D., dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menyoroti kompleksitas relasi Muslim-Kristen yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teologis, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial, politik, dan pengalaman keseharian masyarakat.

“Kami berharap Pusat Studi Agama dan Relasi Kristen-Muslim yang baru ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman, dialog, dan keterlibatan antar umat beragama, khususnya antara umat Muslim dan Kristen,” pungkasnya.

Di sisi lain, Head of Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta Dr. Samsul Ma’arif menekankan pentingnya studi agama yang bersifat transformatif dan berpihak pada keadilan sosial.

Menurutnya, kajian agama perlu dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin, keterlibatan komunitas, serta sinergi dengan pembuat kebijakan dan masyarakat sipil.

Sedangkan Director of Oxford Center for Muslim-Christian Studies, Dr. Richard McCallum menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat UKSW serta mengucapkan selamat atas berdirinya CSR-CMR.

Ia menegaskan bahwa pusat studi seperti CSR-CMR harus menjadi lebih dari sekadar ruang akademik, tetapi juga berfungsi sebagai komunitas pembelajaran yang mampu menjembatani dialog lintas agama.

“Pemahaman antarumat beragama tidak bisa dibangun secara instan, tetapi melalui kesediaan untuk saling mendengar, berdialog secara terbuka, dan menghargai perbedaan,” tandasnya.

Dengan lahirnya CSR-CMR, UKSW turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-4 Pendidikan Berkualitas, SDGs ke-16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDGs ke-17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sejalan dengan Asta Cita Presiden poin ke-3, kegiatan ini menjadi wujud nyata kontribusi UKSW dalam memperkuat kerukunan, toleransi, serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Ning S