blank
Kebun kopi di lahan milik pribadinya ini, menjadi langkah awal Fitroh Imam Achmad untuk melakukan konservasi lingkungan. Insert: Fitroh Imam Achmad. Foto: R. Widiyartono

ADA ungkapan dari tanah Minangkabau yang berbunyi: Alam takambang jadi guru atau alam terkembang menjadi guru. Yang maknanya, pepatah ini mengajarkan manusia untuk belajar dari fenomena alam, pengalaman, dan lingkungan untuk mendapatkan pengetahuan, kebijaksanaan, kesabaran, serta pelajaran moral.

Tetapi di ketinggian 1.130 meter di atas permukaan laut, seorang guru yang mengembangkan diri, tak sekadar mengajar di sekolah tetapi kemudian mengabdi pada alam. Tumbuhnya kesadaran bahwa alam lingkungan di sekitarnya yang sudah rusak tergerus erosi dan tanah longsor yang sering terjadi.

Adalah Fitroh Imam Achmad, seorang guru fisika di SMA Negeri 1 Batur, Kabupaten Banjarnegara yang tergerak batinnya untuk merawat alam sebelum terlambat terlalu jauh. Kalau di Minang alam takambang jadi guru, di Kawasan Dataran Tinggi Dieng ada guru yang mengabdikan diri pada alam.

Desa Sarwodadi, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara berada di kawasan Pegunungan Serayu Utara, dengan topografi yang berbukit dan berjurang dalam. Di sinilah Fitroh Imam Achmad tinggal. Dia semenjak kecil menyaksikan, bagaimana daerahnya yang berjarak sekitar 25 kilometer dari destinasi wisata Dieng, kualitas alamnya makin menurun.

Warga menanam jagung dan sayuran. Kemudian ketika muncul kentang yang menjadi komoditas unggulan kawasan Dieng, para petani pun mengubah lahan yang semula hutan menjadi ladang. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan mengakibatkan makin menurunnya kualitas tanah.

Fitroh menuturkan, tahun 2015 lahan di desanya sangat gersang banyak yang tanam hortikultura, terutama sayuran dan jagung, yang mengakibatkan tanah tercemar karean pemupukan yang berlebihan dan dampak lainnya tanah longsor.

“Saya prihatin melihat kondisi ini. Perubahan iklim tak sekadar isu global, tetapi sudah menjadi ancaman nyata yang saya rasakan sebagai petani yang juga sebagai guru,” kata Fitroh.

Tanam Kopi di Lahan Pribadi

Pola musim yang tidak menentu sekarang ini dan terdegradasinya alam datan tinggi di tempat tinggalnya, menuntut respon cepat dan tepat.

“Karenanya saya mendedikasikan diri dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim tak hanya di kelas sebagai guru, tetapi juga secara langsung di lahan pertanian,” katanya.

blank
Tim verifikasi lapangan dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jateng meninjau kebun kopi yang semula lahan gersang milik Fitroh Imam Achmad. Foto: R. Widiyartono

Di lahan milik orang tuanya yang luasnya sekitar 1 hektare, dia coba tanami kopi. “Bibit kopi ini merupakan tinggalan dari Embah (kakek) saya. Menurut Embah bibit kopi ini berasal dari Jambi. Ketika ditanam di sini ternyata buahnya menjadi lebih besar,” tutur Fitroh.

Dia mengawali dari dirinya, bertanam kopi yang dia tahu, harga jualnya jauh lebih baik dibandingkan dengan sayuran yang pada umumnya ditanam warga.

Itu dilakukan sekitar tahun 2018. Lalu, dengan memanfaatkan kebiasaan warga duduk gegeni atau bediang di depan tungku yang menyala, sambil minum kopi dan makan kudapan ala kadarnya, mereka saling ngobrol.

Maklum saja, Kawasan Dataran Tinggi Dieng memang suhunya bisa sangat ekstrem untuk ukuran daerah tropis. Suhu normalnya pada malam hari bisa sekitar 17 – 19 derajat Celcius.