blank
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Banjarnegara dr Erna Astuty bersama staf, Kepala SMA Negeri 1 Batur Ibrahim Yazdi, dan mantan Plt Kepala SMA Negeri 2 Batur Ilham Budi Santoso hadir saat verifikasi lapangan dari DLHK Jateng. Foto: R. Widiyartono

Tetapi dalam kondisi tertentu, sekitar bulan Juli, kawasan Dieng bisa membeku. Embun-embun yang menempel pada tumbuhan menjadi es, dan tumbuhan pun mati. Itu yang oleh warga setempat disebut bun upas atau embun beracun, karena embun yang membeku menjadikan tanaman mati.

Diplomasi Bediang

Dalam kesempatan mengusir dingin malam sambil bediang ini, Fitroh melakukan “diplomasi” dengan menyampaikan gagasannya untuk merawat alam dengan menanam kopi. Selain alam menjadi lebih terjaga, juga akan didapat hasil secara ekonomis.

Beberapa orang, yang kebanyakan anak-anak muda mendukungnya. Memang ada juga tentu saja yang tidak menanggapinya. Selanjutnya Fitroh bersama beberapa temannya melakukan tindakan lanjutan, setelah dia berhasil menanam kopi di lahannya. Dan dibentuklah Kelompok Tani Konservasi, yang selanjutnya membanguj akses ke pemerintah daerah hingga sampai kementerian.

“Kami bersama ingin menghijaukan daerah kami dengan tanaman kopi. Tetapi hampir seluruhnya, lahan di sini adalah milik warga, jadi memang tidak gampang untuk mereka langsung setuju,” ujar Fitroh.

Dengan komunitasnya itu, kemudian dia berhasil menggugah petani dengan konservasi yang bisa meningkatkan perekonomian. “Kami mendapat dukungan dari Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi Kabupaten,” ujar Fitroh.

Mimpi Jadi Sentra Kopi

Dia memang berniat menjadikan Sarwodadi, desa tempat lahirnya, bisa menjadi sentra kopi. Dan, pelan-pelan itu mulai terwujud, petani mulai merasakan nikmatnya bertanam kopi.

Meski demikian, pada umumnya mereka masih menjual ke tengkulak dalam kopi kopi habis petik. Kopi yang masih basah dengan kulitnya itu dijual seharga Rp 17.000 per kilogram.

“Kami sudah merasakan hasil bertanam kopi. Setidaknya hasilnya lebih baik dibandingkan sekadar menanam sayuran, cabai, atau jagung,” ujar Alifuddin, anggota Kelompok Tani Konservasi.

Kini lahan kopi tak hanya ada di kebun milik Fitroh, ada 40-an anggota Kelompok Taninya yang sudah menanam kopi di lahan masing-masing. Fitroh mengawali dari dirinya, kemudian berhasil memotivasi warga lainnya untuk membangun kembali Kawasan pegunungan yang sejuk tetapi gersang, menjadi hijau dan menghasilkan.

Ini yang menjadikan Fitroh Imam Achmad diusulkan untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru Tingkat Jawa Tengah tahun 2026 kategori Pengabdi Lingkungan, yaitu ASN yang melakukan kegiatan di luar pekerjaannya untuk lingkungan.

Tim verifikasi lapangan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng pun datang ke rumahnya, untuk melakukan verifikasi, Selasa 14 April 2026 lalu.

Tim yang diketuai Benovita Dwi Saraswati dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jateng, R. Widiyartono dari PWI Jateng, Eny Setyowati dan Muhammad Khoirul Amin dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah melakukan verifikasi dengan mewawancarai Fitroh Imam Achmad, dan personel yang berkaitan dengan kegiatannya dalam konservasi lingkungan ini.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarnegara dr Erna Astuty beserta kabid dan stafnya, Kepala Sekolah SMA 1 Batur selaku pihak pengusul, perangkat desa setempat, dan anggota Kelompok Tani Konservasi.

Dampak Sosial Ekonomi

Upaya yang dilakukan Fitroh ini nyata tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga kepada lingkungan alamnya dan warga masyarakatnya. Dengan ditanamnya kopi, setidaknya kondisi tanah akan menjadi lebih baik, mampu menyimpan air dan mengurangi erosi yang mengakibatkan sedimentasi di hilir.

Selain itu, juga makin tumbuh kesadaran masyarakatnya, bahwa menjaga alam itu sebuah kewajiban. Terlebih di wilayahnya yang sudah tergolong kritis akibat tanaman hortikulturan yang sudah berlangsung puluhan tahun.

blank
Ketua Tim Verifikasi Lapangan Benovita Dwi Saraswati harus berpayung saat mengunjungi kebun kopi karena hujan cukup deras di Sarwodadi, Pejawaran, Banjarnegara. Foto: R. Widiyartono

Dan, kini secara ekonomis mereka juga merasakan hasilnya. Kopi telah meningkatkan pereknomian mereka. Namun, umumnya mereka masih berhenti di buah habis petik langsung dijual, yang harganya tentu sangat di bawah bila dibanding kopi yang sudah diolah.

Fitroh telah memulainya dengan memproses kopi itu menjadi kopi bubuk dalam kemasan. “Harganya jauh dibandingkan dengan kopi habis petik, bisa sampai tiga ratus ribu rupiah per kilogram,” kata Fitroh.

Dia memberikan brand pada produk kopinya itu Gega Coffee. “Ini bukan nama asing, gega di tempat kami artinya kebun. Jadi ini kopi kebun, yang sudah sering mengikuti pameran dalam skala regional maupun nasional. Jadi sudah cukup banyak yang mengenal produk kami,” kata Fitroh.

Anda saja, kemudian kopi asal Sarwodadi yang sudah banyak dicari para tengkulak ini bisa diolah sendiri oleh warga setempat, tentu nilai tambahnya lebih tinggi.

R. Widiyartono