blank
Peserta dan instruktur Pelajar Mengukir Tingkat SMP di Galeri Jepara Wood Carving di Pantai Kartini Jepara. Foto:: M. Fikri Haikal

Oleh: Muhammad Fikri Haikal,

Ketukan pahat terdengar ritmis, memecah kesunyian pagi di Galeri Jepara Wood Carving Pantai Kartini. Di ruang sederhana yang artistik  itu, serpihan kayu perlahan berjatuhan, sementara tangan-tangan muda mulai belajar “berbicara” lewat pahat ukiran

Sejumlah anak usia belasan dengan serius mengikuti kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada 1 April 2026 yang diikuti oleh kurang lebih lima sekolah. Masing-masing Sekolah Menengah Pertama  (SMP) di Jepara mengirimkan sekitar lima  siswa. Tujuannya untuk merasakan langsung proses mengukir khas Jepara. Ini   sebuah pengalaman yang berharga. Tidak semua pelajar di kota ukir ini  pernah  berlatih mengukir,  sebab di banyak sekolah tidak ada pelajaran mengukir.

blank
Seorang peserta dengan antusias ikuti kelas Pelajar Mengukir. Foto: Fikri

Bagi sebagian peserta, ini adalah pertemuan pertama dengan dunia seni ukir. Mereka datang bukan karena sudah mahir, melainkan karena rasa penasaran ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari kesehariannya. Juga karena penugasan dari sekolah

Di hadapan mereka, selembar papan kayu dengan pola bunga motif Jepara telah menanti. Sekilas terlihat mudah, namun begitu pahat menyentuh permukaan kayu, barulah terasa bahwa setiap garis membutuhkan ketelitian, setiap tekanan butuh kendali yang pas.

blank
Peserta pelajar mengukir tingkat SMP banyak juga peserta putri. Foto: Fikri Haikal

Seorang peserta mengaku awalnya tidak tertarik dengan seni ukir. Ia hanya ingin mencoba hal baru. Namun, pengalaman pertama itu justru membuka pemahaman baru bahwa mengukir bukan sekadar menggores, melainkan mengolah rasa dan kesabaran. Bagian dalam motif bunga menjadi tantangan paling berat baginya. Membuat pola lengkungan di kayu ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Sementara itu, peserta lain yang telah mengenal seni ukir sejak kelas 7 SMP justru merasakan hal yang sama. Ketertarikan yang lebih dulu tumbuh tidak serta-merta membuat proses menjadi mudah. Lekukan bunga yang halus dan detail tetap menjadi ujian yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

blank
Pelajar putri ini ingin pelatihan pelajar mengukir ini tak berhenti disini. Foto: Fikri Haikal

Cerita serupa datang dari peserta lain. Ada yang sudah tertarik sejak SMP, ada pula yang benar-benar baru mencoba. Peserta dari Sukosono, misalnya, mengaku sengaja datang untuk belajar hal baru. Namun, ia tak menyangka bahwa bagian bunga baik sisi dalam maupun luarnya menjadi bagian paling sulit untuk ditaklukkan.

Peserta dari SMPN 2 Pakis Aji mengaku sudah mengenal seni ukir sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Meski memiliki pengalaman lebih awal, ia tetap merasakan bahwa ukiran bunga membutuhkan ketelitian ekstra yang tidak bisa diselesaikan dengan terburu-buru.

Di balik kesibukan itu, tersimpan kegelisahan sekaligus harapan. Sudarminto dari Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara Jepara melihat pelatihan ini sebagai langkah kecil yang memiliki makna besar. Menurutnya, sebagian besar pengukir aktif di Jepara saat ini berada pada usia 40 hingga 50 tahun. Jumlahnya memang masih ribuan. Namun tanpa regenerasi, keberlanjutan seni ukir bisa terancam.

blank
Peserta rata rata memiliki minat yang tinggi untuk belajar mengukir. Foto: Fikri Haikal

Ia menyebutkan, data yang tercatat menunjukkan sekitar 7.000 pengukir masih aktif. Namun angka itu menyimpan kekhawatiran: minimnya generasi muda yang siap melanjutkan.

“Tidak semua harus jadi pengukir,” ujar Rumini Ketua Paguyuban Pengukitr Perempuan R.A. Kartini yang juga menjadi instruktur Pelajar Mengukir. Tapi harus ada yang meneruskan. Bagi Rumini, pelatihan seperti ini adalah bagian dari estafet budaya. Sebuah cara sederhana untuk memastikan bahwa identitas Jepara sebagai kota ukir tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup di masa depan.

Di antara debu kayu yang beterbangan dan garis ukiran yang perlahan terbentuk, tersimpan sebuah proses panjang tentang belajar, mencoba, gagal, lalu memperbaiki. Disanalah seni ukir menemukan maknanya. Bukan hanya pada hasil akhir yang indah, tetapi pada perjalanan tangan-tangan muda yang sedang belajar menjaga warisan budaya sebagai upaya agar tetap hidup.

Penulis adalah Mahasiswa jurusan KPI UNISNU yang sedang magang di SUARABARU.ID.