blank
Salah satu adegan dalam Pementasan Martir. Foto: Dok. Pementasan.

blank

Oleh Septiana Wibowo

Setiap peringatan Hari Teater Sedunia pada 27 Maret selalu menjadi ruang refleksi bagi insan teater untuk melihat kembali makna panggung sebagai medium ekspresi dan perlawanan. Di tingkat lokal, semangat ini hidup dalam karya-karya Teater Muria, termasuk dalam salah satu pementasan yang kuat secara pesan “Martir” yang dipentaskan oleh Teater Minatani Pati yang telah dipentaskan pada Desember kemarin di Kudus dan Semarang.

Naskah mereka tampak sebagai representasi pergulatan manusia, tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga pergulatan batin manusia dalam menghadapi tekanan sosial, keyakinan, dan kekuasaan.

Istilah “Martir” sendiri identik dengan pengorbanan sebagai representasi rakyat yang rela menderita demi mempertahankan prinsip atau kebenaran yang diyakini.

Dalam tafsir panggung Teater Muria, “Martir” bisa dibaca sebagai kritik terhadap realitas sosial dan masyarakat. Sebagaimana individu sering kali terjebak dalam sistem yang menuntut kepatuhan, bahkan ketika hal tersebut bertentangan dengan nurani.

Tema ini menjadi relevan dengan kondisi sosial negara yang terus berubah dan system yang sering tidak berpihak kepada rakyat, di mana suara-suara kecil kerap terpinggirkan dan hilang begitu saja.

Keunikan ini tampak menjadi kekuatan lokal dalam narasi yang universal yang dimiliki oleh hampir seluruh Teater Muria. Terletak pada kemampuannya mengolah isu universal menjadi dekat dengan konteks lokal.

Tak hanya Minatani, namun beberapa pementasan Teater lainnya di Muria juga sering membawa nilai-nilai pengorbanan dan konflik batin yang bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat sekitar, baik dalam bentuk tradisi, tekanan sosial, maupun dinamika kekuasaan di lingkup kecil.

Pendekatan ini membuat penonton tidak merasa sedang melihat sesuatu yang jauh, melainkan cerminan dari kehidupan mereka sendiri. Bahasa, gestur, dan simbol yang digunakan menjadi jembatan antara cerita dan realitas. Yang juga disimbolkan dalam naskah Martir berupa perjuangan Perempuan yang di pentaskan dengan tokoh Nyai Ontosoroh dan Roro Mendut dalam pementasan.

Relevansi dengan Hari Teater Sedunia

Semangat ini sejalan dengan makna Hari Teater Sedunia dimana teater sebagai ruang kebebasan berekspresi dan penyampaian kebenaran. Pementasan yang menunjukkan bahwa panggung bisa menjadi tempat “bersuara” tanpa harus berteriak secara langsung dan lantang, cukup melalui dialog, konflik, dan simbol.

Hari Teater Sedunia mengingatkan bahwa teater sendiri memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan yang tak terdengar, menggugat yang mapan, dan merawat empati masyarakat dengan nurani yang hidup. Dalam konteks ini, Naskah Martir menjadi contoh bagaimana karya teater lokal mampu menjalankan fungsi tersebut.

Dalam hal ini, kreativitas teater sebagai ruang perlawanan dan harapan diwujudkan tidak hanya dalam seni pertunjukan, namun juga menghadirkan ruang perenungan yang dalam. Saya sebagai penonton dan pembaca diajak bertanya sejauh mana kita berani mempertahankan nilai yang kita yakini? Apakah kita menjadi bagian dari sistem, atau justru berani melawannya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat Teater Muria tetap relevan. Dan di Hari Teater Sedunia ini, karya seperti “Martir” ini menjadi bukti bahwa panggung kecil di daerah pun mampu menyuarakan gagasan besar yang mungkin merubah peradaban menjadi lebih baik.

“Selamat Hari Teater Sedunia.”

Septiana Wibowo adalah Penulis Buku “Bukan Kartini” dan Wartawan SUARABARU.ID