blank
Lokasi seorang petani tersambar petir di wilayah Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Rabu (20/5/2026). Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Nasib tragis menimpa seorang petani yang tersambar petir di area persawahan Pulokulon Grobogan saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut, Rabu (20/5/2026).

Korban diketahui meninggal dunia di lokasi kejadian ketika perjalanan pulang dari menggarap sawah miliknya.

Peristiwa petani tersambar petir di Pulokulon Grobogan itu terjadi di jalan irigasi area persawahan Dusun Padangan, Desa Panunggalan. Korban diketahui berinisial N (58), warga setempat yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

BACA JUGA : Artificial Intelligence Hanya Menemani Bukan Mengganti

Korban diduga tersambar petir ketika kondisi cuaca sedang buruk dengan intensitas hujan tinggi disertai sambaran petir yang terjadi di wilayah Kecamatan Pulokulon.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, korban saat itu baru saja pulang dari sawah bersama istrinya, Bajang (52), menuju rumah mereka di Desa Panunggalan.

Korban mengendarai sepeda motor Honda Revo warna hitam merah bernomor polisi H 3212 PF. Sementara sang istri berada di belakang dengan mengendarai sepeda.

Saat melintasi jalan irigasi di area persawahan Dusun Padangan, petir tiba-tiba menyambar tubuh korban hingga terjatuh di lokasi kejadian.

Melihat suaminya terjatuh, istri korban langsung panik dan berteriak meminta pertolongan warga sekitar.

Teriakan tersebut kemudian didengar sejumlah warga yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Warga pun segera mendatangi tempat korban tergeletak.

BACA JUGA : Kajian Mengenai Qurban, Tentang Pengertian, Waktu dan Syariatnya

Warga mencoba memberikan pertolongan kepada korban yang saat itu sudah tidak bergerak di tengah jalan irigasi persawahan.

Namun setelah dilakukan pengecekan bersama, korban diketahui sudah meninggal dunia di lokasi kejadian.

Gerak Cepat

Kapolres Grobogan AKBP Ike Yulianto melalui Kapolsek Pulokulon AKP Danang Esanto mengatakan, pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari warga.

Petugas Polsek Pulokulon kemudian berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Grobogan untuk mendatangi lokasi kejadian dan melakukan penanganan awal.

“Korban diduga tersambar petir saat perjalanan pulang dari sawah menuju rumahnya ketika hujan deras terjadi di wilayah tersebut,” ujar AKP Danang Esanto.

Polisi selanjutnya melakukan olah tempat kejadian perkara guna memastikan penyebab meninggalnya korban.

Dari hasil pemeriksaan di lokasi, petugas menemukan sejumlah barang milik korban yang masih berada di sekitar area kejadian.

BACA JUGA : Jateng Siap Jadi Pelopor, Kurikulum Perkoperasian Masuk Sekolah Mulai Tahun Ajaran 2026/2027 

Barang-barang tersebut di antaranya pakaian korban, topi warna hitam, hingga sepeda motor Honda Revo yang digunakan korban saat pulang dari sawah.

Selain itu, petugas juga menemukan potongan kain berwarna biru tua di lokasi korban diduga tersambar petir.

Tidak Ada Tanda Kekerasan

Setelah proses identifikasi selesai, warga bersama perangkat desa mengevakuasi jasad korban menuju rumah duka.

Petugas medis dari Puskesmas Pulokulon 1 kemudian melakukan pemeriksaan terhadap tubuh korban untuk memastikan penyebab kematian.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya luka bakar pada bagian rambut kepala sebelah kiri korban.

Tim medis juga menemukan darah keluar dari telinga kiri korban akibat kuatnya dugaan sambaran petir tersebut.

Meski demikian, petugas tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban diduga kuat meninggal dunia akibat tersambar petir. Pihak keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi,” ungkap AKP Danang Esanto.

Kapolsek Pulokulon turut mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di area terbuka ketika cuaca ekstrem melanda wilayah Pulokulon Grobogan.

Ia meminta para petani di Pulokulon Grobogan untuk segera mencari tempat aman apabila hujan deras disertai petir mulai terjadi demi menghindari kejadian petani tersambar petir kembali terulang.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama guna menghindari kejadian serupa terulang kembali,” tandasnya.

TYA WIDYA