JEPARA (SUARABARU.ID) – Di sebuah rumah kecil berlantai tanah di Dukuh Putat, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Jepara tinggal Mbah Raji salah satu seniman seni Emprak yang masih tersisa di Jepara. Ia tinggal seorang diri. Padahal semasa Emprak masih berjaya, ia adalah penari yang digandrungi penontonnya.
Rumah Mbah Raji dengan luas 30 m persegi beratap asbes memang permanen walaupun masih berlantai tanah dan belum sempurna. Ketika malam tiba, ia hanya ditemani lampu bolam 10 watt yang disalurkan dari rumah keponakannya.

Sedang di dalam rumahnya, terdapat 2 buah kursi plastik dan kasur beralaskan perlak yang digelar di tanah. Tempat ia tidur menghilangkan penatnya setelah seharian bekerja sebagai buruh tani dan menyabit rumput untuk pakan ternaknya.
Sedangkan di depan rumahnya terdapat bangku kayu panjang kurang dari 200 senti meter tanpa sandaran. Di bawahnya terdapat beberapa batang kayu bakar. Bangku ini menjadi tempat yang disukai Mbah Raji jika terang bulan sebelum berangkat tidur.

Di usianya yang semakin senja dan tubuhnya yang kian renta, Mbah Raji menjadi salah satu pelaku seni yang mengalami langsung betapa seni tradisi ini mulai di tinggalkan para pewarisnya. Bahkan kemudian perlahan memudar dan hilang
Padahal pada masa lalu, seni Emprak menjadi salah satu seni pertunjukan tradisional yang digemari oleh masyarakat karena mampu memberikan hiburan yang menyenangkan. Juga bisa menghidupi pelaku seni yang terlibat didalamnya, 7 pemain dan 4 orang crew

“Jika musim orang punya kerja kami sering mendapatkan undangan pentas,” kenang Mbah Raji. Bahkan, walaupun sederhana saya juga bisa membuat rumah dan memiliki tabungan 7 ekor kambing. Sayang kambing – kambing itu mati bersamaan dengan kebakaran yang menimpa rumah saya,” tambahnya.
Mbah Raji mengenal dan mulai menekuni seni Emprak sejak tahun 1967, tak lama setelah ia menamatkan pendidikan sekolah dasar. Saat itu ia bergabung dengan kelompok seni Emprak yang dipimpin oleh Sumojono. Bersama kelompok tersebut, Mbah Raji berkeliling tampil dari kampung ke kampung, menghidupkan panggung rakyat dengan tarian dan pertunjukan khas Emprak.

Pada masa itu, seni Emprak bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang berkumpul masyarakat, sarana ekspresi budaya, sekaligus sumber penghidupan bagi para pelakunya. Dari menari di berbagai pertunjukan itulah Mbah Raji perlahan mengumpulkan penghasilan. Bahkan dari hasil jerih payahnya sebagai penari Emprak, ia mampu membeli tujuh ekor kambing sebagai tabungan masa depan.
Namun perjalanan hidup tak selalu berjalan mulus. Sebuah musibah kebakaran melanda rumah Mbah Raji. Api menghanguskan hampir seluruh harta bendanya, termasuk tujuh kambing yang ia pelihara dari hasil menari, pakaian pertunjukan, properti seni, hingga catatan-catatan yang ia simpan sebagai pengingat perjalanan kesenian Emprak.

Peristiwa itu menjadi titik akhir aktivitasnya di panggung Emprak. Kelompok yang dahulu pernah ia ikuti pun kini sudah tidak lagi eksis. Meski demikian, semangat dan kenangan tentang seni tersebut masih ia simpan kuat dalam ingatan.
Bagi Mbah Raji, Emprak bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi bagian dari perjalanan hidupnya. Ia berharap generasi muda suatu hari nanti mau mengenal, mempelajari, dan melestarikan kesenian tradisi itu agar tidak hilang ditelan zaman.
Kini, di tengah perubahan zaman dan modernisasi hiburan, kisah Mbah Raji menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan desa, tersimpan warisan budaya yang pernah berjaya dan menunggu untuk dihidupkan kembali. Namun entah kapan dan siapa yang peduli.
Hadepe – Amin Sururi













