blank
Menjelang lebaran berburu barang baru. Foto: Septi.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Sore ini, deretan toko sembako, pakaian maupun aksesoris penuh dengan pembeli. Di berbagai pusat perbelanjaan di Jepara juga mulai ramai pembeli, serta di pojok salah satu perempatan di Desa Bulu juga berhenti sebuah pick up yang menjual berbagai sandal dengan harga terjangkau. Dia mengklaim dapat menjual 3 pasang sandal seharga sepuluh ribu. Suasana ini terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri yang kurang dua hari lagi.

Musik bertema Ramadan mengalun pelan, sementara spanduk diskon tergantung di hampir setiap etalase. Namun, di balik keramaian itu, ada pemandangan yang berbeda karena banyak pengunjung lebih lama melihat-lihat daripada benar-benar membeli.

blank

Ana (34), salah seorang karyawan swasta, tampak memeriksa label harga berulang kali sebelum akhirnya mengembalikan baju pilihannya ke rak. “Tahun ini harus lebih hemat. Kebutuhan lain lagi banyak,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Kisah Ana menjadi potret kecil dari kondisi daya beli masyarakat menjelang Lebaran 2026. Tradisi belanja kebutuhan hari raya memang tetap berlangsung, tetapi dengan nuansa yang lebih hati-hati. Euforia konsumsi belum sepenuhnya kembali seperti masa sebelum tekanan ekonomi beberapa tahun terakhir.

blank
Pedagang sayur dan sembako di area pasar. Foto: Septi.

Di pasar tradisional, suasana serupa juga terasa. Beberapa pedagang mengakui ada peningkatan pembeli, tetapi jumlah transaksi tidak melonjak drastis. Banyak konsumen datang dengan daftar belanja yang lebih ketat, bahkan tak jarang mengurangi jumlah pembelian.

“Biasanya mau lebaran tiap orang bisa beli dua hingga lima kilo, sekarang bahkan ada yang setengah kilo dulu,” kata salah seorang pedagang ayam di pasar Jepara satu. Bahkan setelah itu ada ibu yang mengeluh bahwa kebutuhan ayam saja sudah hampir dua ratus ribu.

Kenaikan harga bahan pokok menjadi salah satu alasan utama. Bagi sebagian keluarga, pengeluaran rutin seperti biaya sekolah, cicilan, hingga kebutuhan harian membuat ruang belanja Lebaran semakin sempit. Akibatnya, prioritas pun bergeser dari memenuhi keinginan menjadi sekadar mencukupi kebutuhan.

blank

Fenomena ini juga terlihat di beberapa penjual lain. Toko-toko ramai dikunjungi, tetapi tingkat konversi pembelian cenderung menurun. Konsumen lebih selektif, membandingkan harga, dan berburu promo.

“Lebaran tahun ini agak turun karena banyak yang lari ke belanja on-line,” ujar Roni (40), salah satu pedagang sandal keliling.

Di sisi lain, platform belanja daring memang mencatat peningkatan aktivitas. Promo kilat, gratis ongkir, hingga diskon besar menjadi daya tarik tersendiri. Bagi banyak orang, cara ini dianggap lebih efisien untuk tetap berbelanja tanpa harus mengeluarkan biaya lebih besar dan tidak berlelah keluar rumah hingga mengakibatkan pembengkakan pengeluaran akibat mengajak seluruh anggota keluarga.

Meski demikian, Lebaran tetap membawa harapan. Sektor makanan dan minuman mulai menggeliat, pesanan kue kering yang meningkat, dan jasa transportasi dipadati calon pemudik seiring mendekati hari H.

blank

Tradisi pulang kampung masih menjadi prioritas, bahkan bagi mereka yang harus mengencangkan ikat pinggang. Seperti seorang teman yang dari Karimun tampak menunggu jemputan travel di Pelabuhan Kartini Jepara, untuk mudik ke Jogjakarta Bersama anak dan istri tercinta.

Di terminal bus pun tak kalah, antrean pesanan tiket mulai penuh. Wajah-wajah lelah bercampur harap terlihat jelas. Bagi banyak orang, perjalanan mudik bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen emosional yang sulit tergantikan.

Pemerintah sendiri telah menggelontorkan berbagai program bantuan dan stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli. Keamanan yang diperketat di setiap pos mudik dan bahkan beberapa perusahaan besar memberikan subsidi kepada para karyawannya untuk bisa mudik dengan sedikit merogoh kocek pribadi.

Namun, sesungguhnya dampaknya belum dirasakan merata. Kelompok pekerja informal, dengan penghasilan yang tidak menentu, masih berada di posisi yang paling rentan. Pengamat ekonomi berujar ini masih dalam fase transisi selepas beberapa hal yang telah terjadi di masyarakat seperti efek domino pasca pandemi bahkan efek perang yang melibatkan Iran yang berdampak signifikan terhadap ekonomi furniture Jepara karena penurunan permintaan ekspor hingga jalur pengiriman logistic yang terganggu.

“Walaupun masyarakat mulai bangkit, tetapi belum sepenuhnya pulih. Ada optimisme, tetapi harus dibarengi kehati-hatian dalam mengelola keuangan pribadi,” terang Dr. Sugeng adalah mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia periode 2017-2022.

Menjelang Lebaran 2026, cerita tentang daya beli bukan hanya soal angka dan statistik. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil seperti memilih baju baru atau tidak, mengurangi jumlah belanja, hingga menunda keinginan demi kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Di tengah segala keterbatasan, Lebaran tetap dirayakan. Mungkin dengan cara yang lebih sederhana, tetapi tidak kehilangan makna. Karena pada akhirnya, hari raya bukan tentang seberapa banyak yang dibeli, melainkan tentang kebersamaan yang tetap terjaga.

Septiana W.