SEMARANG (SUARABARU.ID) – Euforia mudik mulai terasa di sepanjang jalur pantura Pekalongan hingga Pati, serta jalur lintas utama Semarang menuju Solo.
Bagi masyarakat, mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung, melainkan sebuah “ritual suci” tahunan.
Namun, layaknya sebuah ritual, diperlukan persiapan yang matang agar niat mulia bertemu keluarga tidak berubah menjadi bencana di bahu jalan.
Masih ada pengendara yang terlalu fokus pada persiapan “oleh – oleh” atau baju baru, namun abai pada kondisi kendaraannya.
Padahal, motor yang akan dikendarai dari Semarang ke pelosok Wonogiri atau dari Pekalongan menuju Pati akan bekerja ekstra keras melebihi rutinitas hariannya.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, menjelaskan bahwa motor juga punya ‘Batas Sabar’.
Penjelasannya adalah jika oli sudah hitam pekat, kampas rem tipis, dan rantai kering, motor akan ‘protes’ melalui mesin yang overheat.
Selain itu, bisa pula terjadi rem yang blong, rantai yang putus atau cvt selip tepat saat Bikers sedang memacu di tengah kepadatan arus mudik lebaran.
“Ada 4 titik ‘Protes’ yang wajib diwaspadai untuk menjaga potensi keselamatan tetap maksimal, pastikan empat komponen ini tidak melakukan aksi mogok kerja,” kata Oke, Kamis 12 Maret 2026.
Darah mesin (oli), jangan gunakan sisa oli bulan lalu. Mudik adalah perjalanan jarak jauh. Oli baru memastikan suhu mesin stabil meskipun terjebak kemacetan di Jatingaleh atau jalur Alas Roban yang legendaris.
Sistem penghenti (rem), jalur mudik di Jawa Tengah penuh dengan kejutan, mulai dari pengereman mendadak karena antrean hingga turunan curam. Jangan biarkan kampas rem motor memberikan ‘kepastian palsu’ saat dibutuhkan.
Kaki – kaki (ban & suspensi), saat mudik, motor biasanya memikul beban lebih (boncengan dan barang bawaan). Pastikan tekanan angin ban pas. Ban yang kempes saat membawa beban berat adalah resep utama terjadinya kecelakaan tunggal.
Sistem penggerak (rantai/V-belt), bagi pengguna matik, cek kondisi V-belt. Jangan sampai ia ‘putus hubungan’ dengan mesin saat sedang menyalip truk di jalur pantura Pati.
“Jangan lupakan juga teknik berkendara dan manajemen lelah. Selain motor, kendali ada pada diri kita. Jika motor sudah sehat, teknik berkendara harus dijaga,” kata Oke menjelaskan.
Dirinya menghimbau pengendara untuk menghindari membawa barang bawaan yang melebihi lebar setang atau terlalu tinggi dan terlalu panjang.
Hal ini akan mengubah center of gravity motor dan membuat motor sulit dikendalikan saat tertiup angin kencang (crosswind) seperti di pesisir Pekalongan.
Oke mengingatkan, tujuan mudik adalah untuk sampai ke rumah, bukan sekadar cepat sampai. Pastikan motor benar- benar bersahabat sejak keberangkatan hingga kepulangan nanti.
“Sayangi nyawa Bikers, karena keluarga menunggu senyum Bikers di depan pintu rumah, bukan kabar yang lain. Motor adalah benda mati, tapi ia punya cara komunikasinya sendiri melalui suara kasar, getaran, atau panas mesin. Mendengarkan ‘keluhan’ motor sebelum berangkat adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai kepala keluarga atau pribadi yang mandiri,” pungkas Oke.













