blank
Ilustrasi Surah An Nas (Google)

Oleh: Ulul Abshor

JEPARA (SUARABARU.ID)- Selepas sholat tarawih, di antara kepulan asap rokok, kopi, air kemasan dan kurma Mesir serta beberapa potong kue ‘jaburan’, ada obrolan yang layak untuk direnungkan karena sangat menggelitik kesadaran, berupa ‘malware’ yang sempat mengacaukan diskusi untuk sementara waktu.

Bayangkan pikiranmu seperti komputer. Setiap hari, ada “program” yang berjalan tanpa kamu sadari—program lama dari masa kecil, dari pengalaman pahit, dari kata-kata orang yang pernah menyakitimu. “Program Malware” inilah yang muncul dalam jagongan semalam di teras Loji Gunung Donoroso.

Malware itu berbisik:
“Saya kesulitan menjelaskan kegiatan ….” “Mereka pasti keberatan….”, “Banyak yang harus dipertimbangkan …”, dan kata-kata yang ‘membisikan’ pesimisme negatif terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Dalam bahasa Quran, program jahat ini disebut “was-was”, ini adalah “limiting belief”—kepercayaan pembatas yang membuat kita ‘stuck’, tidak bergerak, tidak tumbuh jika tidak dianulir jalannya.

Sang Intel yang mengintai dalam gelap

“Dari kejahatan bisikan yang suka bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (QS 114: 4-5)

Kata kuncinya: bersembunyi (“khannas”). Was-was tidak berani tampil terang. Ia ‘intel’ yang menyamar sebagai “suara logismu,” “suara pengalamanmu,” bahkan “suara hatimu.”

Tapi ada kabar baik: ‘Intel’ itu pengecut. Ia mundur begitu kamu sadar dan ubah “program”-nya.

Inilah peran ‘olah rasa’ —sebagai alat untuk reprogram pikiran, mengganti was-was dengan “resourceful state” (keadaan yang membangun).

Key Insight
Was-was tidak dimulai dari pikiran. Ia dimulai dari tubuh yang tidak sadar—dada yang sempit, napas yang dangkal, postur yang menyusut.

“Nora mulur nalare pating seluwir”

Identifikasi 3 titik rawan serangan
Problem utama yang diidentifikasi dalam surat ini adalah:

1. Ancaman Psikologis-Spiritual: “Al-Waswas”. Problem terbesar manusia bukan hanya musuh fisik, tetapi musuh tak kasat mata yang menyerang dari dalam: bisikan jahat, keraguan, dan was-was. Ini adalah peperangan batin (jihadun nafs) yang terus-menerus.

2. Kerentanan Hati Manusia. Hati (dada) manusia adalah sasaran empuk karena ia memiliki potensi untuk lalai dari mengingat Allah. Dalam kondisi lalai inilah bisikan masuk.

3. Musuh Ganda: Jin dan Manusia. Problemnya tidak hanya datang dari entitas gaib (jin), tetapi juga dari sesama manusia yang memiliki perilaku setanik. Ini menjadikan tantangan kehidupan sosial semakin kompleks.

Solusi Sistem Penawar

Surat ini juga memberikan solusi komprehensif yang bersifat preventif dan kuratif:

1. Kembali kepada Fondasi Tauhid. Solusi pertama dan utama adalah “isti’adzah” (memohon perlindungan) hanya kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang agung:
· Rabb: Menyadari bahwa Allah adalah Pemelihara yang selalu memberi kita kecukupan.
· Malik: Menyadari bahwa Allah adalah Penguasa yang mampu menaklukkan musuh.
· Ilah: Menyadari bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sehingga hati tidak tunduk pada bisikan setan.

2. Mengaktifkan “Mode Pertahanan” dengan Dzikir. Sifat setan adalah “Khannas” (bersembunyi saat disebut nama Allah). Solusi paling efektif untuk mengusir bisikan adalah dengan berdzikir kepada Allah. Semakin kuat dzikir, setan semakin menjauh.

3. Memahami Sumber Gangguan. Dengan mengetahui bahwa bisikan bisa datang dari jin dan manusia, seorang Muslim diajarkan untuk tidak hanya waspada pada hal gaib, tetapi juga cerdas dalam memilih lingkungan dan pergaulan. Surat ini mengajarkan kewaspadaan sosial.

Relevansinya di Kehidupan Modern

Surat An-Nas sangat relevan dengan problematika kontemporer:

1. Serangan Gangguan Jiwa: Kecemasan (anxiety), stres, dan was-was berlebihan yang melanda masyarakat modern bisa dipahami sebagai manifestasi dari “bisikan” yang menghuni dada. Solusi Al-Qur’an adalah membangun koneksi kokoh dengan Allah untuk mencapai ketenangan hati.

2. Disinformasi dan Propaganda: “Bisikan” di era digital adalah hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda yang dilancarkan oleh “setan dari golongan manusia” melalui media sosial. Surat ini mengajarkan kita untuk berlindung dari kejahatan mereka.

3. Pertarungan Ideologi: Berbagai ideologi yang merusak akidah dan moral (materialisme, sekularisme ekstrem, dll.) adalah bentuk “bisikan” modern yang berusaha masuk ke dalam dada manusia. Benteng perlindungannya adalah pemahaman Tauhid yang kokoh (Rabb, Malik, Ilah).

Surat An-Nas adalah sebuah doa perlindungan sekaligus sistem keamanan spiritual yang paripurna.

“أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ – مَلِكِ ٱلنَّاسِ – إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ – مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ”

Bacalah sebanyak yang kita mampu ketika mendeteksi sang Intel mulai beraksi…

(Penulis adalah Katib Syuriah PCNU Kabupaten Jepara)