blank
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko MAP. Foto: dok Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan akhirnya mengumumkan hasil laboratorium terkait kasus keracunan yang menimpa 8 siswa SD di Kecamatan Tawangharjo, setelah para siswa mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis di sekolah.

Pengumuman resmi dari Dinas Kesehatan Grobogan tersebut sekaligus mengakhiri spekulasi penyebab keracunan yang sempat meresahkan orang tua siswa dan masyarakat, menyusul hasil laboratorium yang memastikan adanya bakteri Escherichia coli pada sejumlah menu makanan yang dikonsumsi siswa.

Kepastian penyebab keracunan itu diperoleh setelah Dinas Kesehatan Grobogan menerima hasil pemeriksaan laboratorium dari sampel makanan yang sebelumnya dikirim ke laboratorium rujukan untuk diuji secara menyeluruh.

BACA JUGA : Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Menggelar RAT

Peristiwa dugaan keracunan pada menu MBG ini terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026. Berawal dari tiga siswa sekolah dasar di Kecamatan Tawangharjo secara bersamaan mengeluhkan mual, pusing, dan gangguan kesehatan.

Setelah itu dilaporkan ada lima siswa yang merasakan keluhan yang sama. Dari delapan siswa tersebut, tiga diantaranya dirujuk ke RSUD dr Soedjati Purwodadi.

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko MAP, menjelaskan bahwa pihaknya segera mengambil langkah cepat dengan melakukan uji laboratorium sampel makanan dari menu MBG yang disajikan pada Jumat 30 Januari 2026.

“Berdasarkan hasil laboratorium, ada bakteri Escherichia coli atau E Coli pada menu makanan yang diterima para siswa,” ujar dr Djatmiko pada Selasa, 10 Februari 2026.

BACA JUGA : Bank Jateng Gandeng HIPWIN Sejahterakan Pengusaha Warteg

Ia menegaskan bahwa tidak semua komponen menu makanan menunjukkan hasil yang sama, karena bakteri tersebut hanya ditemukan pada beberapa jenis makanan pendamping yang dikonsumsi siswa.

“Hasil lab pada menu nasi, acar wortel dan buah naga dinyatakan positif bakteri E Coli, sementara susu dinyatakan aman,” jelas dr Djatmiko.

Menurut dr Djatmiko, susu yang disajikan kepada siswa sebenarnya masih memenuhi standar keamanan pangan karena masa kedaluwarsanya masih cukup panjang dan belum melewati batas konsumsi.

“Susu sebenarnya aman, karena expired datanya masih November 2026, namun ada laporan rasa berubah dari anak yang sempat opname,” katanya.

BACA JUGA : Ramadan Segera Tiba, Perumda Air Minum Tirta Aji Siapkan Sumber Air Cadangan untuk Pelanggan

Dinas Kesehatan Grobogan mencatat dari delapan siswa yang mengalami keluhan, tiga di antaranya sempat mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisi mereka stabil.

Sebagai bentuk pencegahan, dr Djatmiko juga menginstruksikan sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.

Selain itu, petugas kesehatan juga diminta lebih sigap dalam mendeteksi gejala awal keracunan makanan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

TYA WIDYA