blank
Pementasan Naskah Warisan Bapak oleh Teater Bosas di Gedung Kesenian DKD Kab. Jepara. Foto: Septiana.

Lampu perlahan meredup. Suasana hening menyelimuti ruangan sebelum satu per satu dialog mengalir dari atas panggung. Malam itu, Teater Bosas tidak sekadar menghadirkan sebuah pementasan teater, tetapi sebuah kisah kehidupan yang terasa dekat dengan siapa pun yang menyaksikannya di Gedung Kesenian Dewan Kesenian Daerah Kab. Jepara pada Jumat malam, 6 Februari 2026.

“Warisan Bapak” menjadi ruang refleksi tentang keluarga, kehilangan, dan arti warisan yang sesungguhnya. Cerita berpusat pada sosok Tari, seorang anak pertama yang ayahnya telah tiada dan harus meneruskan usaha ukir yang dulu dikerjakan ayahnya.

blank
Salah satu adegan dalam pementasan Warisan Bapak dengan posisi penonton yang melingkari panggung. Foto: Septiana.

Konflik muncul ketika warisan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai nilai komersil seperti yang dipikirkan oleh Tari. Perbedaan cara pandang antarkarakter dibangun perlahan, dialog ibu dan anak membuat emosi penonton naik turun seiring berjalannya cerita, walau tak jarang celotehan tokoh pendukung memancing tawa dan senyum penonton.

Keunggulan pementasan ini terletak pada kekuatan akting para pemain. Ekspresi, intonasi, dan gestur yang ditampilkan terasa jujur dan tidak berlebihan. Beberapa adegan menjadi momen paling kuat, ketika penonton diajak memahami luka dan dilema batin para tokoh.

blank
Robby Sani saat menyampaikan sambutan, Foto: Septiana.

“Tata panggung yang dibuat sedemikian rupa, berbeda dari pementasan-pementasan sebelumnya adalah dalam rangka Road To Parade Teater Terbaik Jateng 2026 yang akan diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta pada Rabu, 11 Februari 2026 nanti,” terang Sekertaris DKD Jepara Robby Sani dalam sambutannya, mewakili Ketua DKD Jepara Kustam Erey S.

Menurut Robby, penataan set untuk dibuat sangat menyesuaikan Teater Arena. Sehingga di tata sedemikian rupa dalam rangka Teater Bosas telah meraih juara 1 Festival Teater Jepara (Festera) 2025 kemarin sehingga sesuai komitmen kami maka Naskah Warisan Bapak akan berangkat ke Festival Teater Provinsi Jateng.

Reza Agnes sebagai sutradara dan penulis naskah menyampaikan bahwa pementasan Warisan Bapak lebih dari sekadar hiburan, ini menyampaikan pesan mendalam bahwa warisan terbesar bukanlah harta benda, melainkan nilai hidup, kasih sayang, dan tanggung jawab yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya. Pesan ini terasa relevan di tengah realitas masyarakat yang kerap memaknai warisan secara material semata.

Melalui pementasan ini, siswa siswi SMK N 3 Jepara yang tergabung dalam Kelompok Teater Bosas membuktikan bahwa berteater dapat menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan persoalan sosial dan keluarga. Pementasan ini tidak hanya berakhir ketika lampu panggung padam, tetapi akan terus hidup dalam pikiran penonton dan mengajak mereka pulang dengan pertanyaan tentang warisan apa yang ingin, dan akan, mereka tinggalkan.

Septiana W.