blank
Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) MBG Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, saat memberikan keterangan di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Rabu, 4 Januari 2025. (Foto: Diaz A Abidin)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Lebih dari 1.000 orang dikatakan mengalami keracunan usai mengonsumsi program dari Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah. Dua kasus terjadi sejak awal Januari 2026 hingga awal Februari 2026, di Kabupaten Grobogan dan Kudus.

”(1000 orang ada ya?) Ada,” ucap Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) MBG Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, di Kota Semarang, Rabu, 4 Januari 2025.

Dia tak menampik, makanan itu berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Salah satunya SPPG Purwosari di Kabupaten Kudus yang berdampak pada ratusan siswa.

”(SPPG) sudah mengantongi SLHS, iya. Kalau enggak kan enggak bisa dibuka, enggak bisa buka resmi kan,” katanya.

Hanung meminta betul, agar pengelola dapur MBG atau SPPG harus bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP). Seperti teliti mengecek bahan makanan, cara memasak, dan sumber air. Jangan sampai teledor sedikitpun.

Dia mengingatkan agar semua SOP-nya  dilakukan dengan benar. Utamanya juga soal penggunaan sumber air, yang telah dinyatakan layak higienis. SPPG agar tidak berganti-ganti mencoba sumber air baru.

“Jangan mencoba yang lain. Kalau mencoba yang lain ya harus dicek dulu. Itu s aja. Jadi banyak faktor yang membuat seperti itu. Tapi tetap teman-teman dari SPPG tetap berupaya keras untuk itu,” katanya.

SPPG Harus Punya IPAL

Hanung mengatakan, setiap SPPG harus memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Dimana masih banyak ditemui SPPG yang membuang air limbah seperti cucian piring di lingkungan sekitar. Baik dialirkan di Sungai, saluran irigasi, dan lainnya.

”(IPAL) itu dalam proses ya,” katanya.

Hanung bilang, dalam persyaratan SLHS juga akan menilai keberadaan IPAL. Untuk itu SPPG harus memilikinya supaya tidak mencemari lingkungan, yang bahkan bisa mengganggu masyarakat sekitar SPPG.

Lebih lanjut, Hanung mengatakan, setiap dugaan keracunan MBG yang terjadi aka nada Tindakan untuk pengelola SPPG. Tindakan itu yakni pemberhentian sementara operasional Dapur MBG.

”Tutup dulu sementara. Cari masalahnya apa? Di situ betul. Berarti kita benahi dulu baru dibuka (lagi),” katanya. (*)

Diaz A Abidin