
Menangis
Di bagian lain, Suparman yang mengaku pernah ikut test menjadi TNI pada masa remajanya itu juga menyampaikan terkesan dengan kegiatan retreat. Pasalnya, pikirannya menjadi terbuka, khususnya tentang gelombang Artificial Intelligence (AI) di era disrupsi. Dia kian paham bahwa sebagai penjaga kepercayaan publik, pers harus bekerja secara benar dan tanggung jawab.
”Saking terharunya, saya bahkan sampai menitikkan air mata, menangis, saat ada materi betapa pers punya peran dalam kemerdekaan,” katanya.
Dia juga terkesan dengan kegiatan latihan menembak di Batalyon 13 Grup 1 Kopassus, Bogor.
”Saya diberi kesempatan dua kali menembak, tapi kelihatannya meleset. Saya tetap senang karena di sini peserta mengetahui teknik dasar menembak,” katanya.
”Tidak apa-apa Mas Parman. Kami tetap bangga,” kata Ade, panggilan akrab Sekretaris PWI yang bertubuh gemuk itu.
Semua yang hadir begitu serius menyimak secara seksama paparan tersebut. Ketua PWI Jateng lebih banyak menanyakan kondisi kesehatan selama kegiatan mengingat jadwal yang begitu padat mulai bangun jam 03.00 WIB.
Untuk mencairkan suasana, Ketua DK PWI Amir Machmud pun bertanya tentang keseharian Suparman di sana, mengingat yang bersangkutan sering menyeduh kopi khusus untuk menambah vitalitas tubuh, terutama kekencangan otot paha.
”Apakah Mas Parman juga minum kopi agar tak gampang ngantuk?” tanyanya, yang disambut tawa.
”Izin, selama kami di sana kami fokus pada kegiatan. Cara makan dan minum diatur. Kita tak sembarangan ngopi di warung. Ini kegiatan bagus, dan kabarnya ada gelombang kedua. Saya berharap, akan banyak wartawan dari Jateng yang ikut,” pungkasnya.
Ning S













