PURWOREJO (SUARABARU.ID) – Malam itu hujan deras datang dan pergi mengguyur lokasi digelarnya Kutoarjo Bersholawat, di halaman depan Pendopo Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, (1//2026).
Ratusan tamu undangan dan para jemaah tetap saja berdatangan memenuhi kursi dan tikar yang digelar lesehan. Terlihat air menggenang di bawah kursi yang tertata rapi. Hidangan Gule Kambing, aneka buah, minuman teh dan kopi sejenak bisa menghangatkan suasana guyuran air hujan.
Tepat pukul 20.00 WIB gema shalawat pun terdengar di panggung. Lampu spot light, kamera foto dan videoe menyorot panggung tanda segera dimulai gelaran ini.
Hujan deras tak menghalangi ratusan jamaah untuk menghadiri Kutoarjo Bersholawat doa bersama menyongsong Bulan suci Ramadhan dan Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purworejo.
Jamaah rela duduk lesehan di tengah genangan air hujan demi memanjatkan lantunan sholawat bersama Gus Wahid Syarifuddin Ahmad dan iringan rebana Majelis As-Shofa.
Nur Huda, Camat Kutoarjo menyatakan bahwa kegiatan gema shalawat dan doa bersama tersebut merupakan wujud kebersamaan seluruh elemen masyarakat di Kecamatan Kutoarjo.
“Acara ini melibatkan Forkopimcam, para kepala desa dan lurah se-Kecamatan Kutoarjo, serta jajaran MWC NU Kecamatan Kutoarjo,” katanya.
Ditambahkannya bahwa gelaran ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Purworejo, khususnya dalam mewujudkan Purworejo sebagai daerah yang religius dan harmonis.
“Melalui doa bersama dan shalawatan ini, kami mendoakan para leluhur di Kecamatan Kutoarjo khususnya dan Kabupaten Purworejo pada umumnya serta memohon keselamatan, ketentraman, dan keamanan bagi seluruh masyarakat agar tetap adem ayem, tanpa suatu aral apapun,” katanya kepada SuaraBaru.Id
Selain meningkatkan semangat ibadah, kegiatan ini mampu memperkuat nilai-nilai kebersamaan, guyub rukun, toleransi, serta kerja sama di tengah masyarakat.
“Saya selalu datang di acara yang bikin adem dihati seperti ini, kalau tak salah ini acara yang kedua buat saya, meski hujan, saya selalu ajak anak saya untuk mendapat ilmu di acara Kutoarjo Bersholawat, basah-basahan pokoknya tetap khusyuk! ” kata Tumarni yang datang dari desa Ngombol.

Gema Kutoarjo Bersholawat tersebut juga membawa berkah bagi masyarakat banyak. Penjaja minuman, tikar plastik, mantel hujan plastik, dan mainan anak-anak.
“Ini hujan yang membawa berkah buat kami pedagang kecil, semua dapat ilmu dan rejeki di Kutoarjo Bersholawat ini, matur nuwun ya Alloh! ” kata Koim penjual mantel hujan plastik.
Sementara itu dari psmggung suara Gus Wahid mengingatkan akan hadirnya Bulan Suci Ramadhan ditahun 2026 yang jatuh di bulan Febuari ini.
“Dalam tradisi Islam, malam Nisfu Sya’ban dipandang sebagai waktu yang istimewa untuk bermunajat kepada Allah SWT, memperbanyak doa, zikir, serta memperbaiki amalan dan niat.” katanya mengingatkan.
Umat Islam diharap memanfaatkan momentum baik ini dengan banyak refleksi rohani menjelang bulan suci Ramadan.
“Bersyukur masih bisa menikmati guyuran air hujsn di sini, karena hujan aksn selalu membawa berkah buat semua jemaah yang di sini, warga Kutoarjo dan Purworejo! ” tambah Gus Wahid menyemangati.
Gelaran Kutoarjo Bersholawat berakhir jelang dini hari masih dalam situasi hujsn, namun semuanya berjalan lancar dan tertib tanpa suatu masalah berarti.
Arif Age













