KUDUS (SUARABARU.ID) – Dugaan keracunan massal terjadi di SMA Negeri 2 Kudus. Puluhan siswa dilaporkan mengalami sakit perut hingga harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah rumah sakit pada Kamis (29/1/2026). Insiden ini diduga berkaitan dengan konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan SPPG Purwosari sehari sebelumnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat, hingga Kamis siang terdapat sekitar 70 siswa yang mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu MBG. Para siswa tersebut dirawat di beberapa fasilitas layanan kesehatan di wilayah Kabupaten Kudus.
Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menjelaskan pihaknya menerima laporan awal dari penanggung jawab MBG SMA 2 Kudus pada Kamis pagi. Saat itu dilaporkan ada siswa yang mengalami diare serta satu siswa harus dilarikan ke UGD akibat sakit perut.
“Mendapat laporan tersebut, saya bersama ahli gizi dan asisten laboratorium langsung mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi terkait menu MBG yang diduga menjadi penyebab,” ujar Nasihul.
Ia menyebutkan, menu MBG yang dibagikan pada Rabu (28/1/2026) terdiri dari soto ayam suwir, tempe goreng, sayur tauge, dan sambal kecap.
Sebagai tindak lanjut, SPPG Purwosari telah mengirimkan sampel makanan ke laboratorium untuk dilakukan uji kelayakan dan keamanan pangan. “Saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini,” katanya.
Nasihul juga menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut dan menegaskan kesiapan SPPG Purwosari untuk bertanggung jawab penuh, termasuk dalam pembiayaan pengobatan siswa yang terdampak.
“Kami menyampaikan permohonan maaf dan siap bertanggung jawab atas pengobatan seluruh siswa yang diduga mengalami keracunan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa SPPG Purwosari setiap harinya menyalurkan 2.173 porsi MBG untuk siswa, guru, dan tenaga pendidik di total 13 sekolah. Namun hingga saat ini, laporan dugaan keracunan baru diterima dari SMA 2 Kudus.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari,” pungkasnya.
Ali Bustomi













