blank
Aurelie Moeremans, pemerang dan penyanyi dengan keterusterangannya menyampaikan pengalan tarumatisnya melalui sebuah memoar. Foto: Instagra, Aurelie

Ia menjelaskan bagaimana pujian, perhatian, kata-kata manis dan rasa aman dapat berubah menjadi alasan untuk mengontrol dan merampas kebebasan, kepercayaan diri dan bahkan jati diri korban.

Buku tersebut dapat menunjukkan bahwa grooming tidak selalu dalam bentuk kekerasan fisik yang aktual. Namun sebaliknya grooming sering muncul dalam bentuk perhatian berlebihan, pembatasan sosial hingga pada level manipulasi psikologis yang membuat korban merasa guilty dan bergantung pada pelaku.

Dari segi penulisan, bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat lugas dan apa adanya. Aurelie tidak berusaha untuk memperindah luka atau meromantisasikan tentang penderitaannya. Justru kesederhanaan gaya bercerita inilah yang membuat kisahnya terasa sangat kuat dan relevan.

Pembaca pun diajak menjelajahi emosi kebingungan, kekautan dan rasa kehilangan yang dirasakan korban dalam relasi abiusif.

Keputusan penulis untuk menyertakan trigger warning pada awal buku juga menggambarkan kepekaan terhadap pembaca khususnya mereka yang memiliki traumatis dan pengalaman yang serupa.

Memicu Diskusi Publik

Semenjak buku ini dirilis dan dibaca oleh masyarakat, Broken String memicu diskusi publik mengenai grooming, kekerasan dan relasi tidak sehat terutama dikalangan anak muda.

Lewat berbagai platform media sosial banyak pembaca mengaku bahwa mereka mulai mengenali tanda-tanda hubungan toksik setelah membaca buku ini. Tidak sedikit orang juga yang berani untuk mengakui bahwa cerita ini sangatlah penting dan relevan sebagai bahan refleksi sosial bagi kita semua.

Namun perhatian publik juga memunculkan kontoversi terutama sebagian pembaca menduga-duga mengenai identitas sosok “Bobby”. Aurelie sendiri dalam akun media sosialnya menegaskan bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk memicu perundungan terhadap pihak tertentu melainkan sebagai bentuk edukasi dan proses penyembuhan luka batin.

Buku Broken String berfungsi sebagai salah satu alternatif edukasi sosial dan ruang empati bagi publik. Hal ini mengingatkan publik bahwa korban grooming bisa berasal dari latar belakang apa pun dan siapa pun, bahkan termasuk mereka yang tampak sangat kuat, bahagia, lugu, dan sukses di mata publik.

Keberanian Aurelie Moeremans untuk berbagi cerita bukan hanya sekedar merawat luka batinnya sendiri melainkan untuk membuka ruang komunikasi yang lebih luas tentang pentingnnya mengenal relasi sehat dan mendengarkan suara korban dengan intens tanpa menghakimi.

Clarissa Martina Yovita Fallo