blank
Dr. Khamdan sebagai pemateri dalam kelas virtual para tenaga medis CPNS Kemenkes, Rabu (21/1/26). Foto: Hadepe

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dari ruang widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Jawa Tengah di Semarang, Rabu (21/1/2025),Dr.  Muh Khamdan, Widyaiswara Bapelkum Jawa Tengah, menegaskan pentingnya peran aparatur sipil negara (ASN) dalam membaca dan menganalisis lingkungan strategis kebangsaan Indonesia yang kian dinamis. Di hadapan 20 peserta Pelatihan Dasar (Latsar) yang berasal dari tenaga medis sejumlah rumah sakit umum pemerintah (RSUP), Khamdan mengajak peserta memahami bahwa tugas ASN hari ini tidak cukup hanya administratif, melainkan juga strategis dan visioner.

Pelatihan yang berada di bawah penyelenggaraan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang itu, menempatkan agenda sikap dan perilaku bela negara sebagai substansi utama mengawali Pelatihan Dasar di kelompok 206. Suasana kelas berlangsung hidup. Diskusi mengalir aktif, mencerminkan kegelisahan sekaligus kepedulian para tenaga kesehatan terhadap isu-isu kebangsaan yang mereka hadapi langsung di lapangan pelayanan publik.

Khamdan menyampaikan bahwa bela negara tidak selalu dimaknai dalam konteks militeristik. Di sektor kesehatan, bela negara hadir dalam bentuk kejujuran pelayanan, keberpihakan pada keselamatan rakyat, serta keberanian mengambil keputusan berbasis kepentingan publik. “ASN adalah wajah negara. Cara melayani masyarakat menentukan seberapa kuat kepercayaan publik terhadap negara. Itu ekspresi kesadaran berbangsa, setia pada Pancasila, dan rela berkorban,” ujarnya.

Salah satu topik yang menyita perhatian adalah paparan Yuyun Azizah Kudadiri dari BPFAK Medan bersama kelompoknya tentang tren Jamu Party di kalangan Generasi Z. Fenomena ini dipandang bukan sekadar gaya hidup, tetapi peluang strategis untuk menguatkan kemandirian kesehatan berbasis kearifan lokal sekaligus memperkuat identitas kebangsaan di tengah arus globalisasi.

blank
Pemateri, peserta, dan penyelenggara Pelatihan Dasar (Latsar) Kelompok 206 Bapelkes Semarang

Diskusi berlanjut pada tema integrasi medis dalam penanganan bencana yang disampaikan Nirwana Safitri dari RS Harapan Kita Jakarta bersama tim. Pengalaman lapangan bencana Sumatera, menunjukkan bahwa penanganan bencana membutuhkan kolaborasi lintas profesi dan lintas institusi. Dalam konteks ini, tenaga medis dituntut tidak hanya terampil secara klinis, tetapi juga tangguh secara sosial dan nasionalis dalam situasi krisis.

Sementara itu, Shabrina Mutya Sari dari Poltekkes Tanjung Pinang dan tim mengangkat pentingnya media publikasi penyadaran kesehatan bagi masyarakat. Menurutnya, informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami adalah bagian dari bela negara, karena mampu menangkal hoaks dan membangun ketahanan sosial masyarakat dari ancaman nonmiliter termasuk antara klinis dan klenik.

Isu kemandirian nasional juga mengemuka melalui paparan Sita Devi Anggraeni dari RSUP Kariadi Semarang. Ia menekankan urgensi penggunaan obat dan alat kesehatan produksi dalam negeri. Selain menjamin keberlanjutan sistem kesehatan, langkah tersebut dinilai memperkuat ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Rangkaian diskusi itu, menurut Khamdan, memperlihatkan bahwa kesadaran berbangsa dan bernegara dapat tumbuh kuat melalui praktik profesional sehari-hari. “Cinta tanah air tidak berhenti pada slogan. Ia hidup dalam pilihan-pilihan kebijakan dan tindakan kecil ASN di ruang kerja masing-masing,” katanya.

Khamdan juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara dengan kekayaan hayati, alam, dan sosial yang luar biasa. Namun, potensi tersebut selalu berdampingan dengan ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan. Karena itu, setiap ASN wajib memiliki kemampuan analisis isu strategis agar mampu berperan sebagai pelaksana kebijakan publik yang baik, pelayan publik yang berintegritas, dan pemersatu bangsa.

Pelatihan dasar ini menjadi ruang refleksi bahwa ASN, termasuk tenaga medis, memegang peran kunci dalam menjaga daya tahan negara dari dalam. Melalui pemahaman lingkungan strategis dan penguatan nilai bela negara, para peserta diharapkan pulang bukan hanya membawa sertifikat pelatihan, tetapi juga kesadaran baru tentang makna pengabdian kepada Indonesia.

Hadepe