Oleh: Dr. Khalimatus Sadiyah, M.Pd.I.
Munculnya perbincangan luas tentang buku Broken Strings karya Aurelie yang mengisahkan pengalaman masa lalunya sebagai korban child grooming tidak seharusnya dibaca semata sebagai kisah personal yang mengundang empati. Lebih dari itu, narasi tersebut dapat diposisikan sebagai cermin sosial yang memantulkan kenyataan pahit: masih rapuhnya sistem kolektif kita—termasuk pendidikan—dalam membekali anak dan remaja untuk mengenali, menghadapi, dan keluar dari relasi manipulatif.
Fenomena child grooming bekerja secara halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi melalui proses manipulasi emosional, pembangunan ketergantungan, dan normalisasi relasi timpang (DUMITRIU et al., 2024). Korban kerap tidak menyadari bahwa dirinya sedang dieksploitasi, karena relasi dibungkus dalam bahasa perhatian, kasih sayang, dan perlindungan semu (S. Albanese et al., 2022). Di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan: ketika bahaya tidak selalu tampak sebagai bahaya.
Dalam konteks pendidikan, kasus semacam ini menegaskan bahwa literasi akademik saja tidak cukup. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan dan melindungi. Anak dan remaja perlu dibekali kompetensi protektif: kemampuan mengenali batas diri, membaca tanda-tanda relasi tidak sehat, memahami dinamika kuasa, serta berani bersuara ketika merasa tidak aman. Kompetensi ini bukan tambahan periferal, melainkan bagian esensial dari tujuan pendidikan.
Tantangan tersebut semakin kompleks di era digital. Ruang interaksi anak kini meluas melampaui ruang kelas dan rumah, memasuki ruang virtual yang minim sekat dan otoritas. Akses informasi yang masif, relasi daring yang cair, serta budaya digital yang seringkali menormalisasi kedekatan semu, menjadikan anak semakin rentan terhadap manipulasi. Dalam konteks ini, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan “aman berinternet”, tetapi perlu mengembangkan kesadaran relasional dan emosional peserta didik: bagaimana membangun relasi yang sehat, setara, dan bermartabat, baik di dunia nyata maupun digital.
Sebagai pendidik yang bergelut di bidang pengembangan kurikulum, saya memandang momentum ini sebagai panggilan untuk membangun kurikulum yang lebih protektif sekaligus humanis. Protektif berarti secara sadar dan sistematis membekali peserta didik dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk menjaga diri. Humanis berarti kurikulum tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi menghidupkan nilai empati, penghargaan terhadap martabat manusia, serta penciptaan ruang aman psikologis di sekolah.
Kurikulum yang protektif dan humanis tidak harus selalu hadir sebagai mata pelajaran baru. Ia dapat diintegrasikan secara lintas bidang studi, melalui capaian pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran diri, komunikasi asertif, dan literasi relasi. Ia juga dapat dihidupkan melalui proyek penguatan karakter, layanan bimbingan konseling, serta budaya sekolah yang menempatkan suara peserta didik sebagai sesuatu yang sah dan penting.
Lebih jauh, kurikulum semacam ini menuntut perubahan cara pandang pendidik. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi sebagai figur dewasa yang menghadirkan relasi pedagogis yang sehat: relasi yang memberi teladan tentang batas, penghormatan, dan empati. Sekolah harus menjadi ruang di mana anak belajar bahwa relasi tidak dibangun di atas rasa takut atau ketergantungan, melainkan pada penghargaan dan kesetaraan.
Dalam kerangka ini, Broken Strings menjadi lebih dari sebuah memoar; ia menjadi alat refleksi bagi dunia pendidikan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian kognitif, tetapi juga dari seberapa jauh ia mampu membentuk individu yang sadar diri, berdaya, dan terlindungi.
Akhirnya, membangun kurikulum yang lebih protektif dan humanis bukanlah pekerjaan instan, melainkan proses kultural dan struktural. Namun, setiap refleksi kolektif selalu berawal dari keberanian untuk bercermin. Dan hari ini, kisah Aurelie telah menghadirkan cermin itu di hadapan kita.
Penulis adalah Dosen FTIK & Kepala Pusat Pengembangan Sistem Pendidikan dan Inovasi UNISNU Jepara













