blank

Oleh: Khoirul Manan

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) melaju jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan etika dan spiritual manusia dalam menghadapinya. Teknologi yang semula diciptakan sebagai alat bantu kini menjelma menjadi kekuatan yang turut memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, bahkan membentuk cara manusia memahami kebenaran dan keberagamaan. Di titik ini, kemajuan teknologi tidak lagi semata persoalan inovasi, melainkan menyentuh wilayah yang lebih mendasar: makna hidup dan nilai kemanusiaan.

AI menawarkan kemudahan luar biasa. Ia mampu merangkum informasi, menyusun jawaban, menganalisis data, bahkan meniru gaya berpikir manusia. Namun, kemudahan ini menyimpan paradoks. Ketika manusia terlalu bergantung pada kecerdasan buatan, proses berpikir perlahan melemah. Nalar kritis tidak lagi diasah, refleksi batin tidak lagi dilatih. Yang terjadi bukan penguatan kecerdasan, melainkan balutan kecerdasan dalam kebodohan—tampak pintar karena jawaban tersedia, tetapi kosong karena tidak memahami makna di baliknya.

UNESCO (2022) telah mengingatkan bahwa digitalisasi, khususnya dalam dunia pendidikan, berpotensi mengikis dimensi adab, keteladanan, dan relasi manusiawi yang selama berabad-abad menjadi fondasi peradaban. Tradisi belajar yang menempatkan guru bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi juga teladan akhlak dan pembentuk karakter, perlahan tergeser oleh layar, algoritma, dan jawaban instan. Pengetahuan memang menjadi sangat mudah diakses, tetapi kehilangan proses pendewasaan.

Fenomena ini semakin kompleks ketika AI tidak hanya hadir di ruang pendidikan, tetapi meresap ke hampir seluruh sektor kehidupan. Laporan McKinsey Global Institute (2023) menunjukkan bahwa mayoritas industri global telah memanfaatkan AI sebagai penentu efisiensi dan produktivitas. Keputusan bisnis, kebijakan, hingga rekomendasi personal semakin banyak bergantung pada algoritma. Namun, AI bekerja berdasarkan data dan pola, bukan kebijaksanaan, nurani, atau tanggung jawab moral.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini bukan hal baru. Tradisi keilmuan Islam sejak awal menegaskan bahwa ilmu tidak pernah dilepaskan dari adab. Imam Malik secara tegas menyatakan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Tanpa adab, ilmu justru berpotensi melahirkan kerusakan. AI mungkin mampu menjawab pertanyaan dengan cepat dan akurat, tetapi ia tidak memahami konteks moral, tidak memiliki empati, dan tidak menanggung konsekuensi etis dari jawabannya.

Di sinilah pemikiran KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menjadi relevan sebagai acuan. Dalam berbagai tulisan dan nasihatnya, Gus Mus berulang kali mengingatkan bahwa kemajuan zaman tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kesombongan baru. Ilmu dan teknologi, menurut beliau, seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin merasa berkuasa. Ketika kemajuan justru menjauhkan manusia dari empati, keheningan batin, dan rasa tanggung jawab kepada sesama, maka di situlah tanda kemunduran peradaban mulai tampak.

Kecanduan dan ketergantungan pada AI memperparah persoalan ini. Banyak orang merasa cukup dengan jawaban mesin, tanpa merasa perlu berguru kepada manusia. Padahal, dalam tradisi Islam, keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada isi pengetahuan, tetapi juga pada proses belajar dan sosok panutan. Lebih ironis lagi ketika etika dan sikap hidup seseorang dibentuk bukan oleh guru dan ulama, melainkan oleh algoritma yang tidak mengenal nilai, adab, dan tanggung jawab moral.

Ketergantungan semacam ini berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara batin. Mereka mampu berbicara banyak, tetapi miskin kebijaksanaan. Mampu mengutip banyak referensi, tetapi kehilangan kepekaan nurani. Dalam konteks ini, AI dapat menjadi alat yang menumpulkan kesadaran, bukan membangunkannya, jika tidak dibingkai oleh nilai-nilai spiritual dan etika.

Karena itu agama tidak hadir sebagai penghambat kemajuan teknologi, melainkan sebagai penuntun arah. Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi—pemegang amanah, bukan penguasa absolut. Teknologi, termasuk AI, hanyalah alat yang harus berada di bawah kendali nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Tanpa kompas etika, teknologi berisiko menjadikan manusia sekadar objek statistik dan angka-angka.

Sebagaimana refleksi yang sejalan dengan pemikiran Gus Mus, modernitas sering kali membuat manusia sibuk mengejar kecepatan, tetapi lupa tujuan. AI mampu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat mengajarkan makna hidup. Ia dapat menyusun jawaban, tetapi tidak mampu menumbuhkan kebijaksanaan. Peran guru, ulama, dan teladan hidup tetap tak tergantikan dalam membentuk karakter dan orientasi batin manusia.

Masa depan bukanlah tentang memilih antara agama atau teknologi, melainkan tentang bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan secara proporsional. Teknologi membutuhkan etika agar tidak kehilangan arah, sementara agama perlu terus dihadirkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman. Dengan menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai kompas, manusia dapat memastikan bahwa kecerdasan buatan tetap menjadi sarana kemaslahatan, bukan kekuatan yang menggerus martabat kemanusiaan.

Penulis adalah Mahasiswa Semester 5 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UNISNU Jepara.