blank
IZI dan SEBI gelar Islamic Philanthropy Outlook 2026, bahas keberlanjutan zakat dan wakaf. Foto: Dok/IZI

Filantropi sebagai Wujud Cinta Kemanusiaan

Sementara itu, Rektor Institut SEBI Sigit Pramono menjelaskan, filantropi dalam perspektif Islam merupakan wujud cinta kepada sesama manusia dan seluruh makhluk Allah.

“Filantropi mengajarkan kita untuk mendahulukan hak orang lain, membantu yang membutuhkan, dan berbuat kebaikan. Di situlah keindahan Islam,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga melalui kerja-kerja sosial dan aksi nyata yang mencerminkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Outlook Zakat dan Wakaf 2026

Dalam sesi paparan, Dr. Endang Ahmad Yani memaparkan hasil Policy Brief IPO 2026 yang menyoroti dampak ketidakpastian ekonomi global 2025–2026 terhadap keberlanjutan LPZ di Indonesia.

Tekanan inflasi dan volatilitas harga dinilai berdampak pada penghimpunan ZIS serta meningkatnya kebutuhan mustahik.

“Sekitar 87 persen penyaluran zakat nasional masih terkonsentrasi pada asnaf fakir dan miskin, menunjukkan urgensi bantuan konsumtif jangka pendek di tengah inflasi pangan yang tinggi,” jelasnya.

Policy brief tersebut merekomendasikan penguatan transparansi, digitalisasi, ketepatan sasaran penyaluran, serta kolaborasi antar-lembaga untuk menjaga kepercayaan publik dan meningkatkan dampak sosial zakat.

Dari sisi wakaf, drh. Emmy Hamidiyah menyampaikan, hingga Juni 2025 akumulasi aset wakaf uang nasional telah mencapai Rp3,03 triliun, didorong inovasi wakaf produktif seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS).

“Penguatan literasi wakaf, peningkatan kapasitas nazhir, dan percepatan digitalisasi melalui platform Satu Wakaf menjadi agenda penting ke depan,” ujarnya.