
Sementara itu, Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D. menegaskan bahwa zakat semakin berperan sebagai instrumen ketahanan sosial dan ekonomi nasional. Dengan potensi zakat mencapai Rp327 triliun, realisasi penghimpunan yang baru sekitar 7–8 persen menunjukkan masih besarnya ruang optimalisasi zakat.
“Outlook Zakat 2026 menekankan penguatan tata kelola, peningkatan literasi, integrasi zakat dalam ekosistem ekonomi syariah nasional, serta akselerasi transformasi digital,” ujarnya.
Nana Sudiana menambahkan, di tengah ketidakpastian global, zakat semakin relevan sebagai pilar stabilitas sosial dan ekonomi umat. Ia mendorong organisasi pengelola zakat untuk menerapkan konsep keberlanjutan yang mencakup aspek syariah, kelembagaan, finansial, sosial, dan digital, termasuk penguatan tata kelola, manajemen risiko, kapasitas SDM amil, serta pengukuran dampak program.
IPO 2026 diikuti lebih dari 300 peserta dari berbagai lembaga zakat dan wakaf serta kalangan akademisi di seluruh Indonesia, baik secara daring maupun luring.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pendorong penguatan tata kelola filantropi Islam, sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga zakat dan wakaf di Indonesia.
Ning S













