Oleh: Eca Johanna Tasya
DI MIMIKA, Papua Tengah, terdapat sebuah kota yang modern yang disebut sebagai Kuala Kencana. Di balik rimbunnya vegetasi, ada sebuah pemandangan yang tidak biasa. Jalan-jalan yang lebar, rumah-rumah modern dengan bergaya khas Amerika, dan area publik yang tertata rapi tanpa ada satu pun kabel listrik yang menggantung.
Inilah Kuala Kencana, sebuah kota modern pertama di Indonesia, merupakan sebuah kawasan yang hadir dengan wajah masa depan, tetapi juga berdiri di tengah keasrian hutan Papua.
Kuala Kencana sendiri diresmikan pada 5 Desember 1995, yang dirancang langsung oleh PT Freepot Indonesia sebagai kota yang mandiri untuk ribuan pekerja tambang dan keluarga merek sendiri.
Namun dari awal perancangan tersebut tidak hanya membangun pemukiman, tetapi juga mereka ingin menghadirkan sebuah kota yang bermodel, dengan sebuah eksperimen, bagaimana modernitas mampu tumbuh tanpa mematikan alam.
Hingga kini sebuah kota yang dirancang dari nol dengan standar internasional, dengan berbagai fasilitas lengkap, serta perhatian yang serius pada lingkungan tropis sekitarnya.

Kesan pertama yang didapat saat memasuki Kuala Kenaca adalah sunyi, bersih dan sangat teratur. Semua jaringan seperti listrik, fiber optik, air, hingga sistem pembuangan semua ditempatkan di bawah tanah, sehingga memberi kesan tampilan pada kota yang sangat rapi, yang jarang ditemui di kota-kota Indonesia lainnya. Tidak ada tiang listrik atau teepon yang menembus langit.
Di pusat kota, terdapat patung yang disebut sebagai ”Golden Statue” yang berdiri megah sebagai ikon. Di sekililingnya, terdapat kantor pemerintahan, pusat perbelanjaan, lapangan hijau, serta fasilitas olahraga yang menjadi tempat ruang untuk berinteraksi warga.
Rasanya setelah memasuki kawasan kota ini, kita dibuat seperti memasuki perumahan modern luar negeri, namun terdapat latar belakang hutan hujan tropis yang begitu lebat.
Meski dibilang kota yang modern, Kuala Kencana sendiri tidak pernah lepas dari identitas tanahnya. Burung-burung Papua seperti kasuari kerap melintas rendah, kuskus yang bisa muncul di ujung halaman, dan juga serangga hutan yang menjadi suara untuk mengisi malam.
Untuk menjaga keberadaan dari satwa tersebut, kota ini menerapkan batasan pembangunan yang ketat. Hal ini untuk mempertahankan banyaknya kawasan hijau yang bisa disebut sebagai koridor alam.













