blank
Sukma Titut (kiri) dan Riko koordinator juri duet kesuksesan Titut Cup 1

Semarang (SUARABARU.ID) – Gelaran lomba burung berkicau Titut Cup 1 bersama BnR Semarang memecah kesunyian Minggu (09/11/2025) dengan riuh kicau burung kompetisi dari berbagai daerah. Bertempat di Gantangan BnR Semarang, Jalan Blancirsari, Plamongan, acara ini berhasil menjadi magnet kuat bagi kicau mania berkat konsep lomba yang dinilai “memanjakan peserta”: hadiah tanpa potongan, berapapun jumlah peserta hadiah utama tetap keluar, terlebih ada hadiah sepeda motor yang semakin memantik minat peserta.

Gelaran ini memainkan 20 kelas, mencakup beberapa kategori burung seperti Murai Batu, Cucak Hijau, Kacer, dan Cendet. Sejak pukul 09.00 WIB, gantangan telah dipadati ratusan peserta dari Semarang dan daerah sekitarnya, mulai Kendal, Pekalongan, Salatiga, Boyolali, Purwodadi hingga Jepara. Arus kedatangan yang terus mengalir membuat suasana kompetisi semakin meriah sekaligus kompetitif.

Salah satu keunggulan Gantangan BnR Semarang adalah lokasinya yang dipenuhi pohon-pohon besar dan teduh. Suasana alami ini menjadi nilai lebih karena mampu memberikan kenyamanan bagi burung untuk tampil optimal. Kondisi lingkungan yang kondusif seperti ini semakin mempertegas konsep BnR yang kerap mengedepankan kesejahteraan burung sebagai bagian dari standar penyelenggaraan lomba.

blank
Tim juri BnR yang terdiri dari Pati, Salatiga, Demak dan Semarang

Tim juri BnR menjalankan penilaian dengan durasi standar 6–10 menit per sesi. Tiga parameter utama menjadi indikator performa burung yaitu, irama lagu, durasi kerja dan gaya burung.

Seluruh proses dilakukan secara terbuka dan dapat diamati peserta, sehingga transparansi menjadi nilai positif yang terus dijaga BnR. Pada beberapa sesi, sorakan kecil dan tepuk tangan muncul saat burung-burung favorit menunjukkan aksi maksimalnya.

Ketua BnR Semarang, Sukma Titut, menyebut bahwa gelaran Titut Cup 1 bukan sekadar lomba, tetapi juga uji kepercayaan terhadap BnR Semarang di mata komunitas kicau.

“Syukur Alhamdulillah, kepercayaan kicau mania masih cukup besar, terlihat dari kelas yang sebagian besar terisi penuh dan seluruh kelas tetap dimainkan sampai selesai,” ujar Titut.

“Harapan saya, Titut Cup bisa menjadi event tahunan agar BnR Semarang bisa terus memberikan ruang kompetisi yang nyaman, adil, dan berkualitas,” tambahnya.

Konsep hadiah tanpa potongan menjadi strategi utama BnR untuk menjaga kepuasan peserta. Filosofinya sederhana: peserta datang membawa burung terbaik, sehingga panitia wajib memberikan apresiasi terbaik pula.

Yang menarik, gelaran ini juga mendapatkan perhatian kalangan akademik. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang (Undip) turut hadir untuk mengamati dinamika komunitas kicau.

blank
Agus Pataya (tengah topi) bersama mahasiswa FISIP Undip

Seorang perwakilan mahasiswa menilai bahwa dunia kicau memiliki keterkaitan kuat dengan isu akademik yang mereka pelajari, terutama soal konservasi, pelestarian lingkungan, dan ekonomi kreatif. “Dunia kicau ini relevan dengan materi kuliah: ada aspek merawat lingkungan, breeding, hingga konservasi. Selain itu ada dinamika ekonomi yang nyata, dari hobi hingga transaksi burung. Banyak yang bergantung hidup dari sektor ini,” jelasnya.

Sementara, Ketua BnR Jawa Tengah, Agus Pataya, menyambut baik kedatangan mahasiswa Undip. “Meski belum banyak memahami dunia burung, mereka tetap menekankan konservasi dan pelestarian. Ini penting.  BnR terbuka dan mendukung kegiatan edukatif seperti ini,” ujarnya.

Menurut Agus Pataya, keterlibatan akademisi memberi harapan baru bahwa dunia kicau tidak hanya sebatas hobi, tetapi juga bisa menjadi ruang studi sosial, ekonomi, dan lingkungan, tambahnya.

Seiring lomba berjalan, tensi kompetisi semakin meningkat. Banyak burung yang turun adalah burung berjam terbang tinggi, dengan rekam jejak juara di berbagai event sebelumnya, hal ini membuat persaingan menuju podium semakin ketat. Di beberapa kelas utama, penonton dibuat terkesima oleh performa burung-burung unggulan yang tampil konsisten dari awal hingga akhir penilaian.

blank
Suasana lomba Titut Cup 1

Secara keseluruhan, gelaran Titut Cup 1 berjalan lancar dan kondusif. Peserta mematuhi aturan non-teriak, yang selama ini menjadi standar penting demi kenyamanan burung selama berlaga. Tim juri bekerja dengan baik, sistematis, dan adil, membuat peserta merasa puas dengan hasil penilaian. Panitia juga memastikan alur event berjalan rapi, mulai dari pemanggilan kelas, penggantangan, hingga pembagian hadiah.

Titut Cup 1 membuktikan bahwa event burung berkicau tetap memiliki daya magnet besar ketika diselenggarakan dengan manajemen yang profesional: hadiah tanpa potongan, lokasi nyaman, penjurian transparan, serta interaksi positif antara komunitas, penyelenggara, dan akademisi.

Dengan kesuksesan ini, harapan menjadikan Titut Cup sebagai agenda tahunan bukan lagi sekadar wacana. BnR Semarang menunjukkan bahwa lomba burung dapat menjadi wadah kompetisi, edukasi, sekaligus ruang penguatan ekonomi kreatif berbasis hobi.

Berikut data juaranya :

blankblankblankblank

(Dwi_Prie)