SUKOHARJO (SUARABARU.ID) – Dzikrullah (zikrullah), adalah amalan ibadah untuk menyucikan, mengagungkan dan mengingat Allah SWT. Ini menjadi benteng dari tipu daya setan, dan dapat menjadi terapi psikiatrik penyeimbang emosi.
Demikian diungkapkan Ustadz Drs H Suroto, saat memberikan pengajian di masjid Al-Falah, Kampung Madyorejo, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo. Kajian rutin Bakda Maghrib sampai Isya’ ini, mengupas tentang pemahaman mengenai Dzikrullah.
Dzikrullah (zikrullah), tandas Suroto, dapat menyelaraskan lisan dan hati, mendatangkan ketenangan jiwa dan meraih keberkahan hidup. Juga menjadi kunci meraih ketenangan dan keberkahan Hidup, dan sebagai perisai diri dari maksiat dan lalai.
Humas Masjid Al-Falah Begug SW, mengabarkan, pengajian rutin tersebut digelar sebagai sarana memperdalam ilmu agama. Tujuannya untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak. Kegiatan ini, menjadi sarana penting untuk mendapatkan ketenangan dalam jiwa, juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi.
Ustadz Suroto, menekankan, untuk meraih kedekatan dengan Allah, dapat dilakukan dengan amalan dzikir dan istighfar. Dzikir adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan sebanyak-banyaknya. Melalui dzikir, umat Islam diperintahkan untuk senantiasa mengingat dan menyebut nama Allah SWT, dalam kondisi apapun.
Menurut Ustadz Suroto, amalan ibadah dzikir berfungsi sebagai kunci kebaikan, membersihkan hati, dan menjadi obat penenang jiwa dari segala kegelisahan. ‘Itu sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Ahzab [33]: 41).
Kebahagiaan
Disebutkan, mengingat Allah SWT, adalah ibadah utama yang membawa ketenangan dan menjamin kebahagiaan. Mengingat Allah secara menyeluruh, mencakup empat dimensi utama. Yakni ketaatan pada perintah, menjauhi larangan, mengamalkan apa yang dicintai, dan menjauhi apa yang dibenci.
Empat pilar mengingat Allah tersebut, Pertama, mengingat perintah-perintah Allah (Al-Awamir). Mengingat dan menjalankan segala kewajiban syariat, seperti mendirikan shalat fardu tepat waktu. Menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan ibadah haji bagi yang mampu. Berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturahmi.
Kedua, mengingat larangan-larangan Allah (An-Nawahi). Mengingat batasan syariat untuk menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Seperti meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah), menjauhi zina, mencuri dan membunuh tanpa hak. Menghindari memakan makanan yang diharamkan (seperti bangkai dan daging babi), serta menjauhi minuman keras.
Ketiga, mengingat apa yang disenangi Allah (Al-Mahabbat). Yakni mengingat amalan, sifat dan perilaku yang mendatangkan cinta dan rida Allah. Seperti bertaubat dan menyucikan diri. Berbuat ihsan (kebaikan) kepada sesama. Sabar dalam menghadapi musibah dan bersyukur atas nikmat.
Keempat, mengingat apa saja yang dibenci Allah (Al-Mubghodat). Yaitu mengingat perbuatan yang dimurkai Allah, agar bisa menjauhinya. Seperti berbuat zalim, sombong dan membuat kerusakan di muka bumi. Melakukan ghibah, memfitnah dan menyebarkan berita bohong. Sifat pelit, kikir dan menyia-nyiakan harta (boros).
”Tentang hakikat dan makna dzikir, bukan sekadar gerakan lisan, melainkan penghayatan hati dalam mengingat dan mengagungkan kebesaran Allah SWT.,” tandas Ustadz Suroto.(Bambang Pur)













