WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Para bakul korban pasar kobong, bernasib seperti pesepeda roda satu. Harus tetap bergerak, agar tidak roboh. Karena itu, sebelum ada pasar darurat yang dibangun pemerintah, mereka ramai-ramai membuat tempat jualan secara mandiri beaya sendiri.
”Harus tetap berjualan, entah bagaimana caranya, supaya tidak roboh,” ujar Marni lugas. Bakul sayur ini, kini membuka lapak ala kadarnya di selatan Stasiun KA Wonogiri. Demikian halnya yang dilakukan pedagang grabatan (kebutuhan pokok sehari-hari), Anang, menyewa kios kecil di dekat WC umum terminal Angkot.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kota Wonogiri (Perdasari), Honru Suryanto, membangun kios darurat di dekat Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah sisi timur Gudang Poncol. Ini dilakukan, agar tetap dapat berjualan komoditas aneka ikan asin yang selama ini ditekuni istrinya.
Edi, pedagang grosir yang kiosnya selama ini menjadi pusat perkulakan aneka bahan plastik dan kertas pembungkus, menyewa kios di sisi tenggara Stasiun KA Wonogiri setahun Rp 8 juta. Tempat jualannya di lantai dua Pasar Kota Wonogiri, musnah terbakar. Termasuk kios yang dijadikan gudang penyimpanan stok barang dagangan juga ludes terbakar.
Agar tetap dapat berjualan, pedagang ikan bandeng presto (duri lunak) dan aneka produk laut, H Supardi, sejak awal membangun lapak di halaman sisi timur Pasar Kota Wonogiri, Tapi belakangan, terkena penertiban harus pindah, sebab lokasinya dipakai untuk membangun pasar darurat yang dilakukan Pemkab Wonogiri.
Seperti pernah diberitakan, Pasar Kota Wonogiri, Jawa Tengah, terbakar pada Senin Legi (6/10/25) lalu. Sementara pembangunan pasar darurat yang dilakukan Pemkab Wonogiri diperkirakan selesai Tanggal 7 Nopember 2025 mendatang.
Nopember
”Realisasi pengerjaannya kini telah mencapai 33,25 persen,” jelas Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri Imron Rizkyarno. Progress report pembangunan pasar darurat ini, disampaikan Rabu (22/10/25) di forum rapat paripurna DPRD Wonogiri. Rapat paripurna, mengagendakan penyampaian jawaban Bupati atas pemandangan umum fraksi-fraksi. Ada lima juru bicara fraksi yang menyampaikan pemandangan umum. Terdiri atas Sutoyo (Fraksi PDI Perjuangan), Widiyatno (Fraksi Partai Golkar), Iwan Susilo (Fraksi PKS), Susanto (Fraksi PKB-Demokrat) dan Dwi Prasetyo (Fraksi Gerindra Plus PAN)

Kata Wabup Imron, penanganan pasca-kebaran Pasar Kota Wonogiri, Pemda telah melakukan langkah-langkah, diantaranya penetapan tanggap darurat. Juga membangun Posko pengaduan dan membangun pasar darurat.
Pembangunan pasar darurat, dilakukan untuk menyediakan tempat berjualan bagi para bakul korban pasar kobong. Jumlahnya sebanyak 749 lapak. Terdiri atas 189 kios dan 560 los. Lokasinya menempati terminal Angkot dan terminal Angkudes, serta shelter BRT Trans Jateng.
Juga menggunakan halaman sisi timur dan sisi barat pasar yang kobong. Berikut menggunakan pula ruas Jalan Durian sisi selatan Kantor Pegadaian, ruas Jalan Pelem 1 dan Pelem 2 Kota Wonogiri.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Wonogiri, Waluyo, dan Kabid Lalu Lintas Dishub, Joko Pramono, menyatakan, penggunaan tiga ruas jalan untuk pasar darurat, akan berdampak pada peningkatan beban arus lalu lintas di ruas Jalan Jenderal Sudirman yang menjadi jalan protokolnya Kota Wonogiri. Juga pada ruas Jalan Kartini. ”Khusunya sejak dari simpang empat Gudang Seng sampai perempatan Ponten,” jelas Waluyo.
Sebagai solusinya, tambah Joko Pramono, akan memaksimalkan ruas Jalan Ir Sutami sebagai alternatifnya. ”Pembebanan arus lalu lintas pada simpang empat Bangjo Gudangseng, secara periodik akan dipantau oleh Tim Rekayasa Lalin dari Dishub,” ujar Joko Pramono.(Bambang Pur)













