
Tak ketinggalan, para peserta lomba juga menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan ini. Salah satunya, Dr. Yohanes Martono, S.Si., yang berhasil membuat inovasi bernama “Pil Teamori” sebagai obat alami untuk mengatasi diabetes. Ia menyampaikan bahwa INOVATALK mewadahi mahasiswa serta dosen untuk menyalurkan inovasi dan mendorong proses hilirisasi. “Saya berharap kegiatan ini menjadi ajang penciri UKSW. Di mana setiap inovasi yang dihasilkan mampu memperkuat dan memperluas dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.
Pemenang Lomba
Pada kategori STEM, juara 1 berhasil disabet oleh Dr. Yohanes Martono, S.Si., M.Sc., dengan inovasi berjudul “Pil Teamori”. Kemudian, juara 2 diraih oleh Dr. Fatimah, SST., M.Kes., dari Poltekkes Kemenkes Semarang dengan inovasi berjudul “Pengembangan Teknologi Nano Pada Teh Oolong Sebagai Alternatif Media Kontras Oral Magnetic Resonance Cholangiopancreatography (MRCP)”.
Sedangkan juara 3 berhasil diraih Gayuh Aji Prasetyaningtiyas dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan inovasi berjudul “Serbuk Limbah Bangunan: Usaha Mengurangi Eksploitasi Tambang Mineral Bentonite untuk Stabilisasi Lubang Fondasi”.
Sementara itu, pada kategori Sosial Humaniora juara 1 berhasil diraih oleh Sih Natalia Sukmi, Ph.D., dari UKSW dengan inovasi berjudul “Batik Sangiran: Sebuah Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Sangiran bagi Peningkatan Kesadaran Konservasi Warisan Dunia dan Kualitas Hidup Manusia”, kemudian juara 2 diraih oleh Mozes Kurniawan, S.Pd., M.Pd., dari UKSW dengan inovasi berjudul “Multiliteracy Pedagogy for Society”.
Untuk juara 3 diraih oleh Dr. Mohamad Hadi Prasetyo, SE., MM., dari Universitas Ekuitas Indonesia dengan inovasi berjudul “Penguatan Literasi Budaya Lokal melalui Storytelling Branding Sampurasun Bandung dalam Konteks Digital sebagai Bagian Pelestarian Budaya”.
Tak hanya itu, apresiasi juga diberikan kepada peserta dengan karya poster terbaik serta presenter terbaik untuk kategori STEM dan Sosial Humaniora. Karya poster terbaik diberikan kepada Ahmad Samsul Arba’i dari Akademi Inovasi Indonesia dengan inovasi berjudul “TECH-BENCHTURE: Alat Uji Ketahanan Kursi Kereta Api Eksekutif 612”.
Kemudian Khoudiy Iffiyah, S.Ars., M.Ars., dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan inovasi berjudul “Urban Micro Green House” serta Anthony Tumimomor dari UKSW dengan inovasi berjudul “Transformasi Bangunan Cagar Budaya menjadi Museum sebagai Upaya Pelestarian dan Menghidupkan Identitas Kota Salatiga”.
Tampil sebagai presenter terbaik kategori STEM Amadeo Wisesa dari UKSW dengan inovasi berjudul “Acclimate – Smart and AI-Driven System Portable Rack for Percise Tissue Culture Seeding Acclimatization”. Sedangkan pada kategori Sosial Humaniora diberikan kepada Carolina Lita Permatasari, SAP., M.Pd., dari UKSW dengan inovasi berjudul “Si Eko dan Mak Tani”.
Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi nyata UKSW untuk mendukung program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.
Acara ini juga menegaskan kiprah UKSW dalam mendukung pencapaian SDGs, ke-1 tanpa kemiskinan, ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan.
Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 34 Prodi Unggul dan A.
UKSW yang berlokasi di kota sejuk Salatiga dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah.
Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.
R. Widiyartono













