blank
Program penanaman jagung bersama yang dilakukan BUMDESMA Leksono di Desa Selokromo Leksono. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, Pemkab Wonosobo menyambut baik dan mendukung penuh inisiatif penanaman jagung bersama yang digagas oleh Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Leksono.

Penanaman jagung yang dilakukan BUMDESMA Kecamatan Leksono bekerjasama dengan DPD Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Wonosobo.

Kegiatan tersebut menjadi langkah konkret mendukung swasembada pangan nasional melalui kolaborasi antar desa, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah.

Penanaman jagung perdana dilaksanakan di Desa Selokromo, Kecamatan Leksono itu yang melibatkan enam desa, yaitu, Selokromo, Jonggolsari, Manggis, Besani, Durensawit, dan Sokokerto.

Total luas lahan yang direncanakan mencapai 10 hektar, di mana 6 hektar lahan telah siap tanam, sementara 4 hektar lainnya masih dalam tahap penyiapan.

Ketua DPD Perhiptani Wonosobo, Bagus Setyo Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pendampingan terhadap budidaya jagung hibrida yang didanai dari anggaran ketahanan pangan desa.

Program ini dilaksanakan sebagai implementasi dari Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2025 tentang percepatan swasembada pangan.

“Kami melibatkan seluruh penyuluh pertanian se-Kabupaten Wonosobo untuk melakukan pengawalan, pendampingan, diseminasi, serta transformasi informasi dan teknologi.

“Tujuannya agar program ketahanan pangan ini berhasil dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa,” jelas Bagus .

Dalam mendukung produktivitas, program ini juga menggunakan alat pertanian modern transplanter jagung, yang memungkinkan proses tanam lebih efisien, seragam dan hemat biaya.

Dijelaskan, untuk menjamin keberlanjutan pemasaran hasil panen, pemerintah pusat melalui Bulog telah menyatakan kesiapan untuk menyerap hasil panen jagung petani dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 5.500/kg dengan kadar air maksimal 14 persen.

“Jadi petani tidak perlu khawatir mengenai pemasaran. Kami akan terus dampingi dari proses budidaya hingga pascapanen,” lanjut Bagus.

Ketahanan Pangan

blank
Sekretaris Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Nugroho Seto. Foto : SB/Muharno Zarka

Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (Dispaperkan) Wonosobo, Nugroho Seto, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah bersinergi dalam mendukung program ketahanan pangan berbasis desa ini.

“Ini adalah momentum yang sangat baik bertepatan dengan Hari Tani Nasional. Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya besar seperti ketahanan pangan tidak bisa dilakukan sendiri. Tapi harus melalui kerja sama lintas sektor, desa, penyuluh, dinas terkait dan masyarakat,” ujar Nugroho.

Dia juga menambahkan bahwa program ini bisa menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di kecamatan maupun kabupaten lain.

“Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo siap memfasilitasi dan memperluas implementasi program ke depannya,” ucap dia.

Direktur Utama BUMDESMA “Laksana Mapan”, Sistoyo, menambahkan bahwa dari 13 desa yang ada di Kecamatan Leksono, enam desa telah sepakat mengonsolidasikan anggaran ketahanan pangan desa untuk kegiatan bersama.

“BUMDESMA Leksono memfokuskan dua sektor utama dalam program tematik ketahanan pangan ini : budidaya jagung dan penggemukan sapi,” katanya.

Untuk budidaya jagung, telah disiapkan anggaran sekitar Rp 200-300 juta. Sedang penggemukan sapi dialokasikan anggaran Rp 600 juta untuk 20 ekor sapi dengan jenis unggul (limosin dan simental) bekerja sama dengan Desa Jonggolsari dan Desa Sojokerto.

“Kami pilih jagung karena permintaan sangat tinggi. Baik dari Bulog maupun pasar umum. Ini peluang besar bagi petani, dan kami akan lakukan evaluasi per musim tanam untuk mengukur hasil dan profit yang diperoleh,” jelas Sistoyo

Panen jagung pertama dijadwalkan pada akhir Desember 2025 dan hasilnya akan menjadi bahan evaluasi serta simulasi pengembangan kegiatan berikutnya.

Melalui sinergi pemerintah desa, penyuluh pertanian, perangkat daerah dan BUMDESMA, Pemkab Wonosobo diharapkan dapat menjadi contoh dalam pengembangan model ketahanan pangan berkelanjutan yang berbasis kolaborasi.

Pemkab Wonosobo berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif-inisiatif serupa guna mendorong peningkatan produksi pangan lokal, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mewujudkan swasembada pangan nasional secara nyata.

Muharno Zarka