SEMARANG (SUARABARU.ID) – Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Kelurahan Mangunharjo, Bahrun (50), terlihat bungah. Hamparan kuning padi biosalin yang dipanen menggunakan traktor harvester seolah menjanjikan masa depan yang sejahtera.
Bagi para petani se-Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tugu dan sekitarnya, padi biosalin telah mengubah kehidupan mereka yang sebelumnya selalu terdampak rob.
Persawahan yang dulunya merupakan lahan yang tidak bisa ditanami karena air asin, kini dengan adanya padi biosalin para petani bisa gembira ria merasakan panen, bahkan sampai meningkat hingga 50 persen saat panen di akhir April 2025.
Lokasi utama implementasi program ini berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, yang kini menjadi model pertanian berkelanjutan bagi daerah pesisir lainnya seperti Mangkang Kulon dan Mangkang Wetan.
Program padi biosalin pertama kali diuji coba pada Juli 2024 di area seluas 2.800 meter persegi. Keberhasilannya mendorong ekspansi hingga 20 hektare pada musim tanam Desember 2024 – April 2025.
Inovasi ini bahkan mendapat apresiasi dari Mantan Presiden RI Joko Widodo, yang secara langsung meninjau implementasi program pada 18 Januari 2025.
“Kami berharap program ini terus berlanjut dan diperluas ke wilayah pesisir lainnya yang menghadapi masalah serupa,” ujar Bahrun.
Dalam sejarahnya, varietas padi Biosalin ini merupakan hasil riset dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) yang diterapkan di lahan salin.
Melalui risetnya, BRIN berhasil menciptakan padi varietas Biosalin yang dapat ditanam meskipun di lahan salin.
Lahan salin merupakan tanah yang memiliki kandungan natrium kadar garam netral larut dalam air berada di atas ambang batas kritis, atau ambang batas toleransi tanaman.
Berikut keunggulan utama padi biosalin yang menjadikannya solusi berkelanjutan bagi pertanian pesisir, seperti tahan air payau dan rob, mampu tumbuh di lahan yang terpapar air asin, menjadikannya solusi ideal bagi pertanian di pesisir.
Hasil panen lebih tinggi, produktivitas mencapai 5–6 ton per hektare, lebih tinggi dibanding varietas padi konvensional. Ramah lingkungan, lebih tahan terhadap hawar daun bakteri dan kresek hingga 90%, mengurangi ketergantungan petani pada pestisida.
Berbasis kearifan lokal, sistem pengelolaan air dilakukan secara gotong royong, dengan mekanisme buka-tutup pintu air untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah pesisir.
Keberhasilan padi biosalin bukan hanya masalah solusi pertanian, tetapi juga simbol ketahanan, inovasi, dan gotong royong dalam menghadapi perubahan iklim.
Dengan komitmen kuat terhadap pertanian berkelanjutan, Kota Semarang tidak hanya bertransformasi menjadi kota metropolitan yang maju, tetapi juga model inovasi pertanian pesisir yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
Benih padi varietas Biosalin ini ditanam dengan menggunakan pupuk khusus untuk lahan salin, sehingga memiliki beberapa kelebihan yang bisa dimanfaatkan.
Di antaranya, tanamannya tahan terhadap genangan air rob, usia panen pendek, tahan terhadap serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) seperti gulma, hama, dan virus. Serta memiliki potensi produksi yang tinggi.
Nantinya, setelah 21 hari masa tanam, padi akan dipindahkan ke tanah yang sudah diolah dan digemburkan menggunakan traktor berbahan Petasol.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, mengatakan, Kota Semarang menjadi pilot project BRIN untuk pengembangan padi Biosalin yang ada di Jawa Tengah.
Dirinya menyebut, akan ada perlakuan khusus dalam penanaman Padi Biosalin ini. Hal ini lantaran benih padi yang ditanam ini memang hasil riset BRIN. Termasuk pemupukan juga menggunakan formula khusus.
“Penanaman padi Biosalin yang ditebar tersebut memiliki dua jenis, yakni Biosalin 1 dan 2. Bibit yang ditebar 5 kg untuk jenis Biosalin 1 dan 5 kg untuk Biosalin 2,” katanya.
Komposisi penanamannya, untuk 5 kg benih bisa ditanam di sawah payau seluas 2.500 meter persegi atau seperempat hektar. Sedangkan untuk waktu tanam kurang lebih 100 hari agar padi Biosalin ini bisa dipanen.
Selain bisa bertahan di kawasan pesisir, varietas padi biosalin juga memiliki keunggulan yaitu hasil panen yang lebih banyak. Padi biosalin bisa menghasilkan 6-7 ton per hektar.
Sebagai perbandingan, padi inpari 32 hanya bisa menghasilkan 3 ton per hektar. Adapun untuk perawatannya, para petani mengaku tidak jauh berbeda antara kedua varietas tersebut.
Wakil Kepala BRIN, Amarullah Octavian, mengungkapkan, pihaknya akan terus mendampingi program penanaman padi Biosalin di kawasan lahan pesisir.
BRIN mendukung penelitian tentang penanaman padi di atas laut, dengan tujuan untuk meningkatkan kadar nutrisi padi dan mengurangi stunting di masyarakat.
Dengan inisiatif ini, Pemkot Semarang dan BRIN berupaya untuk menjadikan Kota Semarang sebagai pionir dalam budidaya pangan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, demi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan di wilayah tersebut.
“BRIN menyiapkan teknologi penyimpanan untuk hasil padi, sehingga petani dapat mengantisipasi fluktuasi harga saat panen raya. Harapannya, semua upaya ini dapat memberikan keuntungan bagi petani dan memperkuat sektor pertanian di Semarang,” katanya.
Berdasarkan penelitian yang dipimpin Peneliti Ahli Utama BRIN, Dr. Tri Martini Patria, mengintegrasikan metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk memastikan dampak lingkungan yang minimal dalam setiap tahap pengelolaan lahan.
Program penanaman padi biosalin, yang dimulai pada tahun 2024 di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, mentargetkan perluasan hingga 400 hektar lahan tidur.
Padi varietas Biosalin 1 dan 2 yang tahan salinitas diharapkan dapat menghasilkan pangan berkualitas tinggi dan meningkatkan ketahanan pangan Kota Semarang.
“Melalui riset dan inovasi, kami mengubah tantangan rob menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan keberlanjutan,” ujar Tri.
Selain padi biosalin, riset ini juga mengungkapkan potensi biomassa dari lahan salin, seperti residu pertanian dan rumput laut, sebagai sumber bioenergi.
Analisis LCA menunjukkan bahwa pemanfaatan biomassa ini dapat mendukung transisi energi berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui inovasi pengolahan sampah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) alternatif yang disebut Petasol.
Teknologi Pirolisis Multi Kondensor ini telah diaplikasikan di Kecamatan Tambak Lorok dan berpotensi menyediakan energi murah dan ramah lingkungan bagi petani.
Dukungan PGN dalam Pengembangan Padi Biosalin
Pengembangan padi Biosalin tak hanya melibatkan instansi pemerintah kota semarang, akademisi dunia pendidikan, atau badan penelitian, tapi juga stakeholder lain, salah satunya PT PGN Tbk selaku Subholding Gas Pertamina.
Melalui lingkup bantuan CSR, PGN turut memberikan bantuan berupa pengembangan produksi padi Biosalin yang dilaksanakan dari Desember 2024 – April 2025 yang terdiri dari bantuan benih dan pupuk dan dilanjutkan pendampingan pasca panen dan pengolahan prosesing benih sampai Desember 2025
“Langkah PGN dalam budidaya Biosalin merupakan bagian dari komitmen PGN untuk memberikan manfaat sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar,” kata Direktur infrastruktur dan Teknologi PGN, Harry Budi Sidharta.
Menurutnya, melalui pemanfaatan lahan tidur ini, juga bagian dari dukungan PGN untuk menjaga ketahanan pangan, selaras dengan program ketahanan pangan Presiden RI.
Tercatat, pada saat musim panen di pertengahan tahun 2025 menghasilkan total produksi sebesar 116,95 ton Gabah Kering Panen (GKP), dengan rata-rata produktivitas mencapai 5,85 ton per hektare.
Varietas padi Biosalin 1 memberikan hasil panen sebesar 6,03 ton per hektare, sementara Biosalin 2 mencatat produktivitas sebanyak 5,67 ton per hektare.
Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Fajriyah Usman, mengungkapkan, capaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan inovasi pertanian adaptif terhadap salinitas tinggi, sekaligus menunjukkan dampak positif dari sinergi antara energi, riset, dan pemberdayaan masyarakat melalui program Social Responsibility (CSR) PGN.
“Keberhasilan panen padi Biosalin ini menunjukkan bahwa upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga riset, dan dunia usaha mampu mewujudkan ketahanan pangan di wilayah yang menantang. PGN bangga bisa berkontribusi nyata bagi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan lahan tidur yang kini menjadi sumber harapan baru,” katanya.
Setelah sukses panen di bulan April 2025, PGN terus melanjutkan budidaya padi Biosalin tahap dua dengan luas 20 hektare. Adapun lahan budidaya padi yang dimanfaatkan PGN untuk program ini bisa dikembangkan lagi menjadi 100 hektare.
PGN tidak hanya menyuplai energi bersih, tapi juga berupaya memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat sekitar melalui program CSR yang berdampak langsung ke masyarakat.
Lingkup bantuan PGN ini berupa pengembangan produksi padi Biosalin yang terdiri dari bantuan benih dan pupuk, yang dilanjutkan pendampingan pascapanen dan pengolahan prosesing benih yang berlangsung sampai Desember 2025.













