blank
Kegiatan doa bersama lintas iman dan sarasehan Gusdurian Wonosobo di Taman Selomanik. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)- Berangkat dari keprihatinan bersama menyoal gejolak bangsa yang menyoroti ketidakstabilan kondisi politik, ekonomi dan sosial negara Indonesia, Gusdurian Wonosobo bersama jaringan lintas iman menggelar doa bersama dan sarasehan.

Doa bersama lintas iman dan sarasehan dengan mengangkat tema “Menghidupkan Kembali Nilai Utama Gus Dur untuk Indonesia”, digelar di Taman Selomanik, Wonosobo. Acara yang berlangsung khidmat ini, diawali dengan sarasehan.

Sarasehan menghadirkan Idham Cholid (mantan Ketua DPRD Wonosobo dan anggota DPR RI yang juga aktifis mahasiswa 1998) dan Ibnu Khotob (mantan Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor dan anggota DPRD Kabupaten Wonosobo).

Koordinator Gusdurian Wonosobo, Nayunda Bella Mahardiani, Selasa (9/9/2025), mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berbangsa terlebih di saat kondisi negeri sedang tidak baik-baik saja.

“Diskusi tentang melahirkan kembali nilai utama Gus Dur di Wonosobo menegaskan bahwa warisan pemikiran dan praksis Gus Dur bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan energi moral yang terus hidup,” katanya.

Idham Cholid mengatakan Gus Dur menanamkan tiga nilai pokok yakni kemanusiaan yang universal, keberpihakan pada yang lemah, dan penghormatan terhadap tradisi.

Nilai-nilai ini, sambung dia, menemukan rumahnya di Wonosobo. Daerah yang kaya dengan kearifan lokal, tradisi pesantren dan dinamika masyarakat yang plural.

“Seperti yang pernah diungkap Gus Dur, tradisi itu bukan untuk membelenggu, melainkan menjadi pijakan dalam melakukan transformasi,” tandasnya.

“Dari titik ini, Wonosobo menjadi laboratorium sosial di mana tradisi bukan hanya dijaga, tetapi juga ditransformasikan agar relevan dengan tantangan zaman,” lanjut dia.

Demokratisasi di Indonesia saat ini, menurut Idham, tengah menghadapi tantangan serius seperti pelemahan institusi, regresi kebebasan sipil, dan politik yang kerap mengabaikan suara rakyat kecil.

“Demokrasi bukan hanya soal prosedur, tapi keberanian berpihak pada yang tertindas dengan mengedepankan transformasi,” ucap Idham yang juga senior penggerak Gusdurian Wonosobo.

Maka, melahirkan kembali nilai Gus Dur di tidak sekadar membangun ruang demokrasi yang berakar pada tradisi. Tapi juga bergerak menuju transformasi untuk menjaga kebebasan, memperkuat masyarakat sipil, mengawal politik agar tidak tercerabut dari nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Idham juga menyampaikan bagaimana Gus Dur menyikapi suatu hal yang saat itu tidak diizinkan untuk berkumpul dalam rangka refleksi kemerdekaan yang nyaris akan dibubarkan oleh kepolisian dengan sikap humoris mengganti dengan kegiatan maulidhotul khasanah, yang akhirnya populer untuk saat ini.

“Nilai dalam suatu kegiatan tetap sama. Hanya namanya saja yang berdeda. Ada 9 nilai Gus Dur yang masih lanjutkan oleh pegiat Gusdurian saat ini. Nilai toleransi Gus Dur bisa membuat Indonesia damai sampai saat ini,” katanya.

Kunci Toleransi

blank
Pegiat Gusdurian Wonosobo foto bersama usai menggelar doa bersama lintas iman dan sarasehan di Taman Selomanik. Foto : SB/Muharno Zarka

Wonosobo sebagai cerminan indonesia yang hari ini tidak mempersoalkan agama, mampu memunculkan cerminan dunia yang damai itu.

Menjawab tantangan bangsa yang semakin hari kian bergejolak ini, Idam menuturkan, asalkan persatuan umat beragama masih kuat dan mengakar dalam keadaan sesulit apapun akan bisa dikendalikan
sebagai kuncinya toleransi.

“Narasi-narasi propaganda hari ini semakin santer terdengar, pecah belah keyakinan agama di Indonesia yang mengindikasikan intoleransi tentu turut menyumbang kemelut kondisi saat ini,” terangnya.

Idham juga berpesan kepada pegiat Gusdurian agar lebih mawas diri, mengutamakan objektivitas dan kepekaan dalam merespon informasi yang beredar agar tidak terbawa arus.

Ibnu Khotob menambahkan Wonosobo tidak sekadar menjadi daerah yang mengenang Gus Dur, tetapi juga menjadi tempat untuk meneruskan perjuangannya.

“Daerah ini mampu membumikan demokrasi dengan wajah kerakyatan, spiritualitas, realitas, dan kearifan lokal untuk mewujudkan surga di bumi ini,” sebutnya.

Ditambahkan Ibnu, hadirnya Gusdurian tentu menjadi wasilah mempererat rasa dan empati terhadap sesama dalam wujudnya saling jaga.
Momen ini menjadi implementasi toleransi yang berbasis kesetaraan.

“Duduk sejajar samarata dengan saling bertegur sapa, ngobrol meskipun masih terbatas waktu tetapi ini bentuk nyata dari toleransi itu sendiri,” jelasnya.

Pihaknya berharap doa bersama lintas iman menjadi titik poin dan sumbangsih pemikiran berupa tindakan kecil kepada negara dalam kaitannya kebergamanan.

Praktek-praktek kebersamaan inilah, katanya, yang akan merajut dan memperkuat persatuan bangsa tanpa menyisakan embel-embel provokasi yang menysup.

“Semoga bangsa kita, umat beragama di Wonosobo khususnya bisa bersatu melawan provokasi yang merusak keharmonisan beragama,” tandas dia.

Kegiatan ini ditutup dengan pembacaan doa dari tokoh umat beragama, Pendeta Setiaji mewakili agama Kristen, Romo Widyo mewakili Katholik, Romo Lukito mewakili Budha, Made mewakili Hindu, Ahsan mewakili Islam, Puji mewakili penghayat kepercayaan dan Ci Titin mewakili Konghucu.

Para tokoh agama juga mencium bendera merah putih sebagai simbol nilai universal tentang makna penghormatan, toleransi dan harmoni sesuai yang telah Gus Dur teladankan.

Muharno Zarka