blank
Warga, termasuk anak-anak antusias ikuti festival. Khoiril Anam

JEPARA (SUARABARU.ID)– To’dok bermakna tusuk, sementara telok berarti telur. Dalam tradisi ini, telur dimaknai sebagai dunia, sedangkan tusuk dimaknai sebagai ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Pesan yang hendak disampaikan ialah bahwa kesuksesan hidup dapat diraih jika dunia disertai dengan mengikuti ajaran Rasulullah.

Awalnya, To’dok Telok merupakan upacara adat masyarakat Sulawesi. Tradisi ini kemudian dibawa hingga ke masa Lembu dan akhirnya tiba di Kepulauan Karimunjawa. Jika di daerah lain To’dok Telok menjadi identitas masyarakat Bugis dalam mengekspresikan cinta terhadap Kanjeng Nabi, maka di Desa Kemujan, tradisi ini berkembang lebih luas.

Kini, To’dok Telok dirayakan bersama oleh berbagai suku yang mendiami Desa Kemujan, mulai dari Bugis, Mandar, Madura, Jawa, dan lainnya. Perayaan ini tidak hanya sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi media silaturahmi lintas suku.

blank
To’dok Telok dirayakan bersama oleh berbagai suku yang mendiami Desa Kemujan, mulai dari Bugis, Mandar, Madura, Jawa, dan lainnya. Foto: Khoiril Anam

Rangkaian Acara Puncak

Muhammad Rizal, Ketua Panitia, menjelaskan bahwa puncak acara Festival To’dok Telok berlangsung pada Jumat, 5 September 2025 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1447 H.

Ritual inti dimulai pada pagi hari dengan pembacaan Al-Barzanji, lalu diakhiri dengan pembagian To’dok Telok, Ka’dok (ketan), dan Sokko kepada jamaah.

blank
Perayaan ini tidak hanya sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi media silaturahmi lintas suku. Foto: Khoiril Anam

Selanjutnya, digelar arak-arakan dari Masjid Nurul Amin Telaga menuju Lapangan Indonoor Dusun Telaga sejauh sekitar 1 km. Warga dari berbagai dusun dan suku ikut serta, seperti dari Batu Lawang, Jelamun, dan Telaga. Mereka saling menyambut dengan Ka’dok (ketan) sebagai simbol persaudaraan, sebagaimana persaudaraan Muhajirin dan Anshar ketika Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah.

Setibanya di Lapangan Indonoor, peserta disambut dengan tarian Jawa dari Mrican, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadzah Ifadah Kamilia, serta Dziba’ Al-Barzanji yang dipimpin oleh PC ISHARI NU Jepara.

blank
Arak-arakan dari Masjid Nurul Amin Telaga menuju Lapangan Indonoor Dusun Telaga sejauh sekitar 1 km.. Foto: Khoiril Anam

Acara kemudian berlanjut dengan sambutan Petinggi Desa Kemujan Mas’ud Dwi Wijayanto. Ia menegaskan kegiatan ini adalah tradisi kami di Desa Kemujan. Mohon tradisi ini dapat dilestarikan. Festival To’dok Telok ini sarat makna, yaitu meski berbeda-beda suku namun tetap bersatu,” tandasnya.

Budayawan Bugis yang akrab disapa Bang Jack juga menyampaikan apresiasinya. “Kita harus bersyukur kepada Allah SWT karena To’dok Telok selain sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, juga sebagai sarana penyatuan suku, kesenian, dan kebudayaan. Mudah-mudahan kegiatan serupa semakin diperbanyak agar menambah kerukunan, kebersamaan, dan keberagaman,” ujarnya.

blank
Tarian menyambut warga yang berkumpul. Foto: Khoiril Anam

Sementara itu, Khoiril Anam, Sekretaris Lesbumi Jepara, turut menyampaikan rasa syukurnya. “Kami berterima kasih dan bersyukur kepada Allah dapat melihat keindahan ekspresi cinta warga Kemujan kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa memandang suku, ras, dan warna kulit. Semua bergandeng tangan menyukseskan acara ini demi cintanya kepada Rasulullah,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Khulafaur Rasyidin, dan ditutup meriah dengan penampilan tari Sakde dari suku Bugis.

blank
Tarian oleh anak-anak muda berhasil memukau pengunjung. Foto: Khairil Anam

Tradisi yang Memperkuat Persaudaraan

Festival To’dok Telok di Desa Kemujan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga pengikat persaudaraan antar-suku di Karimunjawa. Tradisi ini menegaskan bahwa masyarakat hidup rukun, saling bergotong royong, dan menjaga kebersamaan dalam perbedaan.

Hadepe – Khoiril Anam